Spot Kekinian Sabang, Hamparan Samudera Hindia di Gua Sarang

Sering dijuluki Mini Raja Ampat karena gugusan pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitarnya. Dulu hanya dikunjungi petualang, karena gua hanya bisa dicapai dengan tali. Kini hanya perlu menapaki 150 anak tangga, kita bisa menikmati keindahan hamparan Samudera Hindia di ujung barat Sumatera ini.

Keindahan alam Sabang, Aceh memang komplet. Tak hanya alam bawah lautnya yang mendunia, tapi juga bentang alam di permukaan pulau Weh di ujung barat Sumatera ini. Dari pegunungan, hutan hingga pesisir dan gua-gua di perbukitan karangnya. Salah satunya adalah Gua Sarang di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang.

Gua Sarang berada di bibir pantai, ada antara Pantai Pasir Putih dan Lhong Angen. Gua ini berada di kawasan hutan lindung, di balik pegunungan Sabang dan pepohonan yang mengapit sepanjang perjalanan dari desa Iboih. Sebelum masuk gua, dari atas pegunungan ini kita bisa memandang hamparan biru Samudera Hindia dan beberapa pulau kecil di sekitar Pulau Weh.


Sarang Burung Walet
Gua Sarang diperkenalkan sebagai objek wisata Sabang sejak pertengahan 2015. Gua Sarang sering dijuluki Mini Raja Ampat karena gugusan pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitarnya. Gua yang dulu menjadi sarang burung walet ini berada di kaki tebing dan perbukitan yang menjorok ke laut. Di perbukitan, di pelataran gua kini tersedia berbagai spot foto kekinian dengan latar gugusan pulau di antara birunya Samudera Hindia.

Dulu, untuk mencapai Gua Sarang mesti memakai tali. Hanya petualang yang menjelajahinya. Atau cara yang lebih mudah, membayar Rp 1,5 juta untuk menyewa kapal nelayan menuju Gua Sarang karena tak ada jalur darat. Kini akses menuju gua sarang sudah lebih baik, kita ‘hanya’ mesti menuruni sekitar 150an anak tangga.

Konon, Gua Sarang dulunya berada di area tanah milik Sultan Iskandar Muda. Nama Sarang berasal dari riwayat gua yang menjadi sarang burung walet. Gua ini memiliki lima pintu, namun hanya dua pintu gua yang dihuni burung walet.

Gua Sarang menawarkan tempat untuk pelancong yang ingin menikmati pantai, berenang, snorkeling, menyelam bahkan berkemah di area yang tersembunyi. Untuk camping di area Gua Sarang, kita harus membayar sekitar Rp200 hingga Rp300 ribu. Di area ini tersedia fasilitas air bersih dan toilet, bahkan warung kopi! Sedap kan...

Bila ingin snorkeling, perhatikan musim. Saat musim angin barat, kawasan wisata Gua Sarang tidak bisa digunakan untuk snorkeling atau aktivitas air lainnya karena tidak aman. Pada musim ini angin kencang dan ombak besar. Tunggu hingga musim angin timur saat kondisi alam dan perairan di sekitar Gua Sarang menjadi tenang.

Untuk mencapai Gua Sarang, dari kota Banda Aceh kita menumpang kapal BRR atau kapal cepat, Express Bahari menuju ke Kota Sabang. Begitu merapat di Pelabuhan Balohan, meluncur menuju Desa Iboih. Kita bisa bertanya pada warga, ada juga palang penunjuk arah ‘Gua Sarang’, jarak tempuhnya sekitar 25 menit dari pusat desa. Tenang, jalanannnya sudah beraspal kok.

Paling enak sewa motor, karena di Sabang tidak tersedia sarana transportasi umum. Harga sewanya berkisar Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per 24 jam. Sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Penyeberangan Balohan menuju Gua Sarang kita disuguhi pemandangan alam pegunungan, hamparan laut biru, aktivitas ekonomi warga, dan perkampungan penduduk. Jalanan mulus, namun tidak banyak beton pengaman atau rambu peringatan. Jadi hati-hati menyusuri jalanan mendaki dan berliku di Pulau Weh ini.

Foto: Andika Hutama