Ani Kabo, Identitas Suku Dayak Penyelaras Alam Semesta

Dulu, Ani Kabo digunakan untuk ritual dan acara adat. Manik-manik pada Ani Kabo dipercaya dapat menyelaraskan hubungan antara manusia, alam semesta dan dunia roh.

Indonesia beruntung menjadi negara yang memiliki beragam suku dari Sabang hingga Merauke. Tiap-tiap suku tersebut memiliki ciri khas yang menjadi identitas mereka. Suku Dayak di Pulau Kalimantan misalnya yang memiliki budaya yang unik dan sangat mudah dikenali, mulai dari pakaian hingga aksesori yang mereka kenakan.

Kali ini, Sobat Pesona akan diajak untuk mengenal tentang Ani Kabo. Ani Kabo memiliki filosofi yang dalam bahasa dayak disebut "Si Sawal, Si Hnau, Si Lawai Aro Luen Tam Mluen". Dalam Bahasa Indonesia, artinya "Sehari, satu pikiran, satu tujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik."

Ani Kabo dibuat dengan untaian manik-manik warna-warni yang dilengkapi dengan liontin merah berbentuk oval. Bagi Suku Dayak, manik-manik warna-warni menggambarkan emosi spiritual yang berkaitan dengan hal magis dan sakral. Manik-manik pada Ani Kabo dipercaya dapat menyelaraskan hubungan antara manusia, alam semesta dan dunia roh.

Penggunaan Ani Kabo juga memiliki arti tersendiri. Ani Kabo dibuat dengan panjang yang disesuaikan agar liontin menyentuh bagian ulu hati. Tujuannya agar makna dari Ani Kabo bisa dipahami seutuhnya oleh masyarakat Suku Dayak yang menggunakannya bahkan sejak masih kecil.

Dulu, Ani Kabo digunakan hanya untuk keperluan ritual atau acara-acara adat. Kini, masyarakat Suku Dayak memakainya karena dianggap memiliki nilai estetika sekaligus menjadi identitas mereka.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan semakin banyak minat wisatawan pada Suku Dayak, Ani Kabo juga mulai dijual sebagai survenir. Keindahan Ani Kabo ini rupanya banyak menjadi incaran para wisatawan, terutama wisatawan asing yang mengagumi keindahan Ani Kabo.

Selain memiliki nilai ekonomi, penjualan Ani Kabo menjadi salah satu upaya agar tradisi pembuatan kalung tersebut tidak hilang ditelan waktu. Dengan begini, tradisi pembuatan Ani Kabo akan terus bertahan hingga pada generasi penerus puluhan tahun yang akan datang.

Saking istimewanya, Ani Kabo meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2018 dalam Festival Budaya Irau Malinau. Masyarakat Suku Dayak menampilkan Ani Kabo berukuran besar dengan panjang untaian kalung mencapai dua meter dan besar liontinnya mencapai 40 cm berdiameter 30 cm. Melalui rekor ini, masyarakat Suku Dayak telah "mengamalkan" filosofi kebersamaan, kekeluargaan gotong royong, dan toleransi serta untuk lebih memahami pesan dari Ani Kabo itu sendiri yang coba diwariskan sejak ratusan tahun lalu oleh para nenek moyang.


Foto: Ed Suhardy