Pasa Hwal, Gulat Dayak Sa'ban Merebutkan Gelar Pemimpin

Meski kedengarannya tak biasa, namun suku Dayak Sa'ban tetap mempertahankan tradisi mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah. Bahkan, setiap tahunnya, tradisi ini selalu digelar dalam Festival Budaya Irau Malinau.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki ragam suku dan budaya, yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia. Hal inilah yang membuat Indonesia menjadi salah satu destinasi wisatawa budaya terbaik. Dari ribuan suku yang ada di Indonesia ada beberapa suku yang sangat menarik untuk kita pelajari. Salah satunya, ialah Suku Dayak.

Suku Dayak sendiri juga memiliki ragam rumpun yang sangat banyak. Mayoritas dari mereka mendiami Pulau Kalimantan, dan di perbatasan Malaysia hingga Brunei Darussalam. Setidaknya terdapat 7 Rumpun Dayak di Kalimantan, dan puluhan Sub-Suku di dalamnya. Tentu masing-masing punya ciri khas dan keunikan tersendiri. Salah satunya ialah sub-suku Dayak Sa`ban, yang memiliki tradisi unik bernama Pasa Hwal.

Pasa Hwal merupakan sebuah ritual memperebutkan kekuasaan dengan melakukan gulat yang dilakukan oleh kaum pria Dayak Sa`ban. Mereka yang akan bertarung memperebutkan kekuasan tersebut memakai celena hitam, mirip yang digunakan para pesumo di Jepang. Mereka bergulat dengan tangan kosong, alias tanpa senjata.

Konon, budaya ini sendiri berawal dari persaingan dua bersaudara di zaman dulu kala. Awalnya, mereka bersaing untuk melompati batu tinggi dengan bambu runcing tajam di bagian atasnya. Atraksi pertama ini disebut Sa'ban Telmeh.

Dikisahkan, sang adik menjadi pemenang dalam lomba Sa'ban Telmeh ini. Tak terima, kakaknya pun kembali menantang adiknya melalui Pasa Hwal (gulat). Namun, lagi-lagi sang adiklah yang menang dan diangkat sebagai pemimpin.

Masyarakat suku Dayak Sa'ban masih sangat menghormati tradisi Pasa Hwal ini. Bagi mereka, hanya yang terkuat dan terbaiklah yang berhak untuk mendapat gelar pemimpin. Di sisi lain, mereka yang kalah dalam perlombaan Pasa Hwal akan diangkat menjadi prajurit. Tugas mereka adalah menjaga dan mempertahankan desa dari serangan musuh.

Meski kedengarannya tak biasa di zaman yang serba modern ini, namun suku Dayak Sa'ban tetap mempertahankan tradisi mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah. Bahkan, setiap tahunnya, tradisi ini selalu digelar dengan meriah dalam Festival Budaya Irau Malinau.

Sekedar informasi, persebaran Dayak Sa’ban di Indonesia terpencar di berbagai desa pedalaman, seperti di wilayah Pujungan, Malinau Selatan, termasuk desa di Kecamatan Malinau Utara dan Malinau Barat. Penampilan Dayak Sa`ban sangat mudah kita kenali. Paling mencolok dan seragam ialah gaya rambutnya laki-laki dari Dayak Sa`ban. Pada umumnya mereka menggunakan gaya rambut berponi depan, rambut samping dicukur tipis, namun tetap menyisakan rambut panjang pada bagian belakangnya.


Foto: Ed Suhardy