Si Cantik Namo Sifelendrua yang Tak Mudah Ditemui

Nias dengan sejuta keindahan budaya dan alamnya tak henti-hentinya membuat takjub. Alamnya masih alami, dan banyak yang tak mudah dijangkau. Tapi menawarkan keelokan karya Sang Pencipta, seperti Namo Sifelendrua ini.

Namo Sifelendrua seperti kecantikan keindahan yang tak ingin ditemukan. Jalur untuk mencapainya, membutuhkan perjuangan keras dan tenaga ekstra. Namo Sifelendrua, merupakan air terjun yang menyuguhkan sisi lain dari Desa Bawomataluo, Nias yang legendaris itu.

Desa yang tengah diusulkan menjadi warisan dunia (World Heritage) tersebut selama ini dikenal dengan keindahan arsitektur rumah adat, seni ukir dan lompat batunya yang legendaris. Banyak yang tak tahu, kalau desa di atas perbukitan ini sebenarnya ‘dikelilingi’ sungai.

Searah dengan Ndrölö (lorong) Halamba’a terdapat bagian sungai yang disebut Yogi. Yogi ini desa-desa di Nias Selatan hingga bermuara di laut. Sungai Yogi di dekat desa Bawomataluo ini memiliki 12 Namo atau telaga. Namö tersebut dihitung dari urut-urutan telaga yang besar saja sehingga dikenal dengan Namö Sifelendrua.

Namo merupakan bahasa Nias, yang berarti telaga. Sementara Felendrua adalah dua belas. Jadi artinya, telaga atau curug ini memiliki 12 tingkat yang masing-masing berdiameter 8-10 meter dengan kedalaman bervariasi. Jarak antara namo bervariasi, paling dekat sekitar 10 meter.

Beberapa namo memiliki kedalaman di atas 5 meter dan memiliki dinding batu dengan ketinggian sekitar 8 meter. Warga lokal atau petualang sering menjadikannya tempat favorit untuk melakukan atraksi terjun.

Air Namo Sifelendrua mengalir di atas bebatuan cadas dan batu kapur. Kontur sungainya berkelok, semakin ke bawah semakin terjal. Beberapa namo bahkan memiliki air terjunnya sendiri dengan ukuran berbeda-beda. Dinding kiri kanan sungai juga adalah bebatuan besar dipenuhi pepohonan lebat yang melilitkan akar-akarnya pada bebatuan itu.

Batu ini berada di dinding sebelah timur. Bentuknya seperti dinding batu dengan ketinggian sekitar sekitar 40 meter dari permukaan sungai, memanjang sekitar 150 meter di sisi timur sungai. Kontur dinding batu seperti itu, sangat cocok untuk kegiatan panjat tebing dan kegiatan uji nyali lainnya.

Untuk menuju ketempat ini Sobat Pesona harus menyiapkan mental dan kondisi fisik yang prima. Jangan lupa bekal minuman dan makanan, karena perjalanan menuju Namo Sifelendrua lumayan menguras tenaga. Kita mesti menyusuri hutan belantara yang masih belum banyak terjamah manusia, menuruni bebatuan yang cukup licin. Pastikan, memakai sepatu hiking yang nyaman ya... 

Cara paling mudah mencapai Namo Sifelendrua, tentu saja ditemani warga lokal. Sepanjang jalur hutan, melewati rimbunnya pepohonan diteman terdengar gemericik air di kejauhan. Saat terbaik untuk mengunjungi adalah saat hari cerah. Karena malam hari sebelumnya hujan, begitu sambai kolam, airnya keruh. Tapi, ini tidak mengurangi rasa takjub. Keindahan alam di sekelilingnya, sangat tenang dengan hutan dan pepohonan yang masih terjaga kelestariannya.


Foto : Shandy Gema