Kuliner Legendaris Jogjakarta yang Wajib Dicoba

Mulai dari gudeg dengan cita rasa yang tak berubah hingga lele beraroma asap yang nikmat.

Berkunjung ke Jogjakarta rasanya tak lengkap jika tidak sambil mencicipi kuliner yang kaya rasa. Berikut kuliner legendaris di Kota Pelajar yang tidak boleh kita lewatkan!


1. Gudeg Mbah Lindu Sosrowijayan
Rahasia gudeg Mbah Lindu adalah bumbu gudeg yang ia racik sendiri. Mulai dari memasak dan menyajikan gudeg, Mbah Lindu turun tangan langsung. Makanya, cita rasa gudeg milik Mbah Lindu tak pernah berubah. Selalu enak dan dicari para wisatawan lokal hingga mancanegara.

Sama seperti gudeg lainnya, Mba Lindu meyajikan makanan ini dengan krecek, gudeg, tahu, tempe dan telur ayam. Semua komponen gudeg itu disajikan dengan pincuk atau daun pisang yang dijepit lidi.


2. Kopi Joss Lik Man
Berburu kuliner malam di Jogjakarta belum lengkap rasanya tanpa ditutup dengan minum Kopi Joss Lik Man. Berlokasi di sebelah utara Stasiun Tugu Jogjakarta, angkringan Lik Man sungguh menggoda para wisatawan dengan wangi kopi yang begitu memikat.

Kopi Joss Lik Man, yang kini diterskan oleh mbah Pairo, sudah ada sejak 1960-an. Kopi joss dibuat dengan kopi, air mendidih dan gula. Setelah bercampur rata di dalam gelas, lalu ditambahkan dengan dua potong arang yang membara dari tungku. Selain kopi, Mbah Pairo juga menjual teh manis kental, susu jahe, wedang tape dan makanan khas angkringan seperti nasi kucing, sate ayam, kerang, keong, telur puyuh dan usus ayam.


3. Wedang Ronde Mbah Paiyem
Dari kedai kecil ini, Mbah Paiyem menawarkan wedang ronde dengan rasa yang autentik. Mbah Paiyem pantang menggunakan pengawet sehingga rasa wedang ronde miliknya lebih nikmat. Bahan-bahan yang dipilih juga kualitas terbaik agar dapat memunculkan rasa alami.

Untuk membuat ronde, Mbah Paiyem juga tidak mau menggunakan tepung jadi. Meski diusia yang sudah senja, Mbah Paiyem lebih senang menumbuk beras ketan dengan tangannya sendiri demi cita rasa yang sama sejak 1965 silam. Dulu, Mbah Paiyem sering dipanggil ke Istana (Gedung Agung) atas permintaan Presiden Soeharto yang ingin merasakan kenikmatan wedang ronde miliknya.


4. Sate Klatak Pak Bari
Banyak penjual sate klatak di Jogjakarta, tapi Pak Bari diklaim sebagai pelopornya. Sate Klatak adalah sate dari daging kambing yang hanya dibumbui dengan garam saja.

Uniknya, Pak Bari menggunakan jeruji ban motor untuk membakar sate di atas bara api. Jeruji ban yang berbahan besi membuat panas api lebih merata. Hasilnya, daging kambing tidak terasa keras. Sate klatak yang sudah dibakar lalu disajikan bersama kuah gulai.


5. Mangut Lele Mbah Marto
Salah satu penjual nasi yang bertahan di daerah Nggeneng adalah Mbah Marto. Keunikan dari warung Mbah Marto adalah kita diajak langsung memilih makanan ke dapur. Lauk-pauk yang sudah matang disajikan langsung di dalam baskom. Masih hangat dan tentu saja nikmat.

Menu andalan Mabah Marto tentu saja mangut lele. Lele diolah dengan ditusuk ke pelepah kepala lalu diasap dengan kayu bakar hingga berwarna kehitaman. Aroma asap membuat lele semakin kaya rasa. Setelah itu, dimasukkan ke dalam kuah santan dengan bumbu cabe merah yang pedas di atas tungku. Ditambah dengan petai yang ditabur di atasnya semakin menambah rasa. Tak heran jika kita harus mengantre demi mencoba masakan Mbah Marto yang sudah terkenal seantero Jogjakarta.