Pelebon: Acara Pengantaran Jenazah yang Megah dan Meriah

Larut dalam alunan Baleganjur yang membangkitkan suasana suka cita sambil mengantarkan jenazah menuju Sang Kuasa

Kesempatan langka bagi saya bisa menyaksikan Pelebon (Ngaben) di Puri Ageng Blahbatuh, Gianyar, Bali. Sebelumnya, Puri Ageng Blahbatuh adalah puri yang tertutup untuk umum. Namun, sekarang telah dibuka untuk umum sehingga masyarakat bisa menyaksikan sejarah dan budaya Bali di puri ini.

Persiapan Pelebon almarhum Ida I Gusti Ngurah Djelantik XXIV yang wafat pada November 2018 dilakukan selama sebulan. Persiapan yang utama adalah pembuatan Bade dan Lembu (wadah jasad) rancangan oleh I Ketut Gede Setiawan. Puri Ageng Blahbatuh juga melakukan persiapan untuk rangkaian upacara.

Bade Padma Negara (anjungan pembawa jenazah) setinggi 24 meter dengan berat diperkirakan lebih dari 10 ton. Bade Padma Negara dibawa oleh hampir 3.000 warga dari berbagai banjar di Gianyar sambil mengenakan udeng (ikat kepala khas Bali untuk laki-laki) berwarna hitam.

Acara di mulai sejak subuh dengan melakukan upacara di pemakaman.  Dilanjut dengan rangkaian upacara yang dipimpin oleh  Ida Pedande (Pendeta Hindu) di halaman puri. Kemudian dilaksanakan upacara Nyiramin (ngemadusin) yaitu memandikan jenazah di dalam puri yang dilakukan oleh pihak keluarga. Digelar acara tarian yang menceritakan sejarah dan kisah perjuangan para penglisir Jenazah lalu dinaikan ke puncak Bade Padma Negara.

Acara dilanjut dengan Anak turun Penglisir menaiki Lembu yang turut berjalan beriringan di depan menuju pemakaman. Ada yang unik dari proses ini. Bade akan berputar-putar tiga kali berlawanan arah jarum jam saat di persimpangan. Proses ini memiliki arti penting dalam ritual yaitu sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta (lima unsur pembentuk alam, yaitu tanah, air, udara, api dan ruang angkasa) ke tempatnya masing-masing. Proses ini juga sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga dan lingkungan masyarakat.

Sepanjang perjalanan, kaum wanita membawa berbagai banten (sesaji) dan aneka keperluan pemakaman. Pelebon dilakukan dengan suka cita karena bagi masyarakat Hindu kremasi dianggap dapat membantu jenazah untuk segera menuju Sang Pencipta dan moksa adalah tujuan tertinggi. Jenazah Penglisir di kremasi sambil diiiringi Baleganjur (musik khas Bali) yang menambah suasana ceria dan semangat.

Abu jenazah kemudian dikumpulkan dalam wadah. Lalu dilakukan beberapa beberapa rangkaian ritual lainnya. Tahap terakhir adalah upacara Nganyud yaitu menghanyutkan abu jenazah ke laut, dilakukan di Pantai Saba. Nganyud bertujuan untuk menghanyutkan segala kotoran yang masih tertinggal dalam roh jenazah agar bersih menuju Sang Kuasa.

Ini adalah pengalaman pertama bagi saya menyaksikan Pelebon secara lengkap. Ketika kremasi dimulai dan mendengar Baleganjur, perasaan saya campur aduk, antara sedih dan ceria. Pelebon kali ini menjadi upacara langka di Gianyar karena terakhir kali diadakan tahun 1962 yaitu saat Pelebon Penglisir ke XXII.