Mendaki Buduk Yuvai Semaring, nenek moyang Sultan Brunei di Krayan

Di balik kabut, sosok bukit ini begitu tenang bersanding dengan kehidupan Dataran Tinggi Krayan yang penuh dengan misteri.

Berada di Long Bawan, Dataran Tinggi Krayan, Kalimantan Utara, bukit ini cukup dekat dengan perbatasan Indonesia - Malaysia yang berhiasi dengan hutan lebat dan hijau. Bukit Yuvai menjadi lokasi yang tepat untuk berburu pemandangan matahari terbit, di antara pemandangan indah khas Kalimantan yang bersanding dengan bandara dan bangunan sederhana Long Bawan.

Bukit ini bisa didaki dengan jarak tempuh sekitar 1 kilometer menuju puncaknya yang berada di ketinggian 1100 mdpl. Titik awal pendakian berada sekitar 15 menit saja dari Long Bawan dengan menggunakan mobil berpenggerak 4x4. Namun, tanahnya cukup membuat mobil berjalan lebih pelan. Untung kami melakukannya pada cuaca yang kering.

Perjalanan dilanjutkan dengan mendaki anak tangga dari semen cukup membantu pendakian menjadi lebih mudah menuju ke teras pertama. Kemudian dilanjutkan dengan jalur setapak menuju ke teras kedua, ketiga dan puncak. Semakin mendekati puncak, kemiringan medan cukup membuat lelah dan jalur semakin sempit karena kami mendaki di puncakan punggungan. Setelah satu jam mendaki, kabut masih membungkus pemandangan kami. Lalu dengan perjalanan, keindahan Buduk Yuvai Semaring mulai terlihat dan amat memesona.


Legenda
Buduk adalah Bukit dalam bahasa Dayak Lundayeh, sedangkan Yuvai Semaring merupakan nama dari sosok legenda yang mendiami bukit ini pada zaman perang antar suku dahulu kala. Yuvai Semaring digambarkan memiliki tubuh sangat besar seperti raksasa. Dia bertugas untuk menjaga warga suku Lundayeh dari puncak bukit untuk waspada terhadap datangnya musuh. Hanya dengan berbekal suaranya yang keras, dia bisa memberi peringatan tentang arah datangnya musuh, jumlah musuh hingga suku apa yang akan menyerang. Uniknya cara memperingati para warga suku Lundayeh bukanlah sebuah kalimat peringatan, melainkan dengan melantunkan lagu.

Membayangkan Yuvai Semaring dan keluarganya yang tinggal di atas bukit ini, cukup membuat nafas sesak karena medan yang harus mereka lalui untuk beraktivitas. Yuvai dan keluarganya pastilah memiliki kekuatan luar biasa sehingga bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia biasa. Tak berapa jauh dari puncak terdapat sebuah lubang yang diyakini sebagai tempat tinggal Yuvai dan keluarganya.

Namun, menurut cerita, karena ancaman keselamatan yang datang tiba-tiba, Yuvai membawa semua keluarganya turun bukit dan pindah mendekati wilayah Brunai hingga anak Yuvai bisa menikahi seorang putri Raja yang menjadi nenek moyang Sultan Brunai sekarang ini. Lubang gua bekas tempat tinggal Yuvai telah tertutup oleh bebatuan yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan jejak mereka.

Sekarang puncak bukit ini telah berkibar monumen dan tiang bendera yang terlihat jelas dari jauh, sebagai penanda bahwa wilayah ini berada dalam naungan Merah Putih yang akan terus berkibar sampai kapan pun juga.