3 Tarian Adat Sulawesi Tengah yang Unik dan Bermakna

Ketiga tarian ini memilik makna yang berbeda-beda. Ada yang dibawakan untuk menolak bala atau penyembuhan, ada pula yang dibawakan dengan puluhan pasangan suami-istri.

Ragam suku dan budaya yang dimiliki Indonesia memang membuat kita semakin kaya akan tradisi. Hampir di setiap daerah dihuni puluhan suku. Pastinya, setiap suku punya ciri khas tersendiri. Nah, salah satu yang menarik untuk kita bahas ialah adat dan tradisi di Sulawesi Tengah. Di sini memiliki beberapa tarian adat yang unik namun syarat akan makna.

Berikut ini 3 Tarian Adat Khas Sulawesi Tengah yang unik dan bermakna:


Tari Raego
Tarian Raego merupakan tarian masyarakat adat Suku Uma, Tobako, Ompa, Moma, dan Tado yang mendiami sebagian besar wilayah dataran tinggi Kulawi dan Pipikoro. Secara administrasi wilayah tersebut masuk dalam wilayah Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi Tengah.

Tarian Raego dibawakan secara berkelompok, yang terdiri dari beberapa pasang laki-laki dan perempuan. Konon, pada zaman dahulu, apabila penari Raego bukanlah sepasang suami istri, maka laki-laki yang menjadi pasangannya wajib menyediakan seserahan adat kepada suami atau keluarganya. Berupa dulang, kain sarung, ataupun parang sebagai wujud permohonan izin untuk menari bersama.

Tangan kiri dari penari laki-laki akan merangkul bahu penari perempuan yang menjadi pasangannya. Sedangkan tangan kanannya memegang parang yang dililitkan di bagian pinggang sebelah kiri . Para penari ini akan membentuk setengah lingkaran. Tangan yang saling merangkul membentuk sebuah simpul ini merupakan simbol kebersamaan dalam menghadapi situasi apapun. Hal inilah yang menjadi makna tersirat dalam Tarian Raego.


Tari Balia
Tarian ini diarahkan kepada pemujaan terhadap benda keramat, khususnya yang berhubungan dengan pengobatan tradisional terhadap seseorang yang terkena pengaruh roh jahat. Balia terdiri dari 2 suku kata, yaitu Bali dan Ia. Bali berarti tantang, dan Ia berarti dia. Jadi tarian ini berarti Tantang Dia. Maksudnya, melawan setan yang telah membawa penyakit dalam tubuh manusia.

Balia diyakini oleh masyarakat setempat sebagai prajurit kesehatan yang mampu untuk memberantas atau menyembuhkan penyakit. Ada pun penyakit yang disembuhkan adalah penyakit berat maupun ringan melalui upacara tertentu.

Masuk atau tidaknya makhluk-makhluk tersebut ditentukan oleh irama pukulan Gimba (gendang), Lalove (seruling) yang mengiringi jalannya upacara ini.


Tari Doplak
Tarian ini ditarikan oleh 7 orang penari wanita, seorang di antaranya berperan sebagai palima yaitu kepala penari. Keenam penari lainnya disebut dayang-dayang. Tari Dopalak ini menggambarkan bagaimana ketujuh orang tersebut datang membawa dulang, setelah itu palima maju terlebih dahulu untuk menyelidiki tempat yang mengandung emas, kemudian diikuti oleh yang lain.

Setelah itu, mereka semua mulai mengambil pasir yang bercampur emas, selanjutnya pekerjaan mendulang dimulai, menggunakan selendang sebagai penyaring, emas yang diperoleh dimasukkan ke dalam dulang selanjutnya mereka pulang.