3 Lomba Adu Cepat, Tradisi Unik Sumbawa

Sumbawa memiliki destinasi wisata tradisional yang unik di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan tradisi balapan akan banyak kita jumpai ketika melancong ke Sumbawa.

Sumbawa memang tidak seperti Lombok dan Bali yang memiliki infrastruktur lengkap. Namun, kita dapat menikmati petualangan sembari menyaksikan keindahan budaya lokal. Banyak kegiatan ritual dengan cara-cara lama masih dilakukan di Sumbawa, karena mereka percaya bahwa ritual tradisional masih terus mempengaruhi kehidupan penduduknya sehari-hari. Meski kerap dikenal karena keberadaan Gunung Tambora, Sumbawa juga punya banyak hal lain yang menarik, termasuk tradisi lomba adu cepat yang unik.


Barapan Kebo
Barapan kebo (karapan kerbau) adalah adu cepat yang sudah turun temurun dilakukan orang Sumbawa dari zaman nenek moyang. Karapan ini biasanya diadakan sekali seminggu, pada hari Minggu, di tempat-tempat berbeda. Namun, biasanya karapan kerbau diselenggarakan di Lapangan Srading (Kab. Sumbawa), di Lapangan Srangin (Taliwang, Sumbawa Barat), dan di Lapangan Alas Barat (Kab. Sumbawa Barat).

Kerbau yang digunakan untuk karapan hanya kerbau jantan yang dipelihara secara khusus. Mereka hanya ditempatkan di kandang, diberi makan yang banyak, kemudian dilatih dua kali seminggu, yaitu hari Jumat dan Sabtu. Tujuannya supaya kerbau terbiasa berlari kencang dan terarah. Kerbau karapan juga diberi nama unik, seperti Manohara, Piring Terbang, atau Janda Udik. Kerbau tercepat biasanya mampu berlari sejauh 100 meter dalam 9 detik!


Barapan Ayam
Jika ayam yang dalam budaya lain disabung, di Sumbawa disuruh adu cepat. Barapan ayam (karapan ayam) biasanya dilakukan sekali seminggu, setiap Sabtu. Dalam karapan ayam, setiap pasangan ayam yang sudah diikat harus melewati daun lontar (saka) yang ada di tengah lapangan. Jika sudah melewati saka tersebut barulah ayam itu dapat dikatakan berhasil. Selanjutnya, untuk menentukan siapa pemenang, tentu waktu tempuhlah yang diperhatikan.


Main Jaran
Tradisi adu cepat unik di Sumbawa selanjutnya adalah main jaran (pacuan kuda). Pacuan kuda skala besar biasanya dilakukan dua kali setahun dan akan diikuti oleh joki dari seluruh Indonesia bagian tengah-timur mulai dari Lombok, Bima, sampai Sumba. Kalau karapan ayam dan kerbau jokinya orang dewasa, pacuan kuda ini jokinya adalah anak kecil berumur antara 5-9 tahun.

Para joki sudah dilatih sejak mereka usia 4 tahun. Di Kabupaten Sumbawa sendiri, main jaran diselenggarakan di Lapangan Angin Laut, Desa Penyaring, Moyo Utara. Pacuan kuda skala besar biasanya berlangsung 7 hari pada April atau Mei.