Selat Galantin, Steak Jawa Adaptasi Kuliner Belanda

Bistik klasik yang diadaptasi dari kuliner Belanda tempo dulu. Selat galantin atau di Solo disebut dengan Selat Solo juga merupakan hidangan keraton yang sudah melegenda.

Selat galantin merupakan salah satu santapan kegemaran raja-raja di Kasunanan Solo pada era kolonial Belanda. Menu masakan yang tidak terlalu membuat kenyang dengan sayuran dan daging serta bumbu kuahnya yang tidak pedas, tetapi manis asam dan gurih. 

Selat Galantin berisi potongan galantin sebagai pengganti daging, dipadu dengan potongan wortel, telur, irisan tomat, buncis, dan kentang goreng yang memberikan aksen warna yang cantik serta kacang polong dengan daun selada dan juga acar timun serta saus mustard yang diletakkan di atas daun selada.

Disajikan dengan kuah berwarna cokelat pekat dengan rasa yang manis-manis gurih yang memberikan aksen asam-asam yang segar. Saus dengan jejak gerusan lada hitam terasa sedikit kasar plus aroma pala yang wangi dicampur bersama dengan daging galantin yang enak dan gurih.

Galantin sendiri merupakan variasi dari steak daging. Galantin menggunakan bahan dasar daging, yang dibuat dari daging sapi cincang, sosis, tepung roti, dan telur dicampur menjadi sebuah adonan yang kemudian dibentuk seperti lontong, dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus beberapa saat. Setelah matang dan dingin, dipotong-potong seperti irisan lontong, lalu digoreng dengan sedikit margarin.

Penyajian galantin menyerupai bistik klasik pada umumnya. Semua bahan, potongan galantin dan sayuran yang sudah dimasak, diletakkan di piring datar. Potongan galantin dikelilingi oleh irisan telur rebus, wortel, buncis, kacang polong, kentang, tomat, dan daun selada. Lalu disiraman saus yang manis gurih dan kental menyatukan berbagai unsur tadi, ditambah sedikit saus mustard manis di atas daun selada. Jika sudah merasa siraman saus cukup manis, saus mustard manis tersebut dapat diabaikan. Rasa manis-gurih, tanpa nuansa pedas, memang cukup mendominasi selat galantin.