Khanduri Laot, Upacara Syukur Nelayan dan Panglima Laut Sabang

Para nelayan dan masyarakat pesisir di Kota Sabang, Pulau Weh, Provinsi Aceh memang dikenal punya cara tersendiri dalam menunjukkan rasa syukur atas rezeki yang datang dari laut. Lewat upacara tradisional tahunan Khanduri Laot, mereka menyampaikan doa kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat bahari.

Tiap tahun, ratusan nelayan beserta beberapa panglima laut mengadakan gelaran Khanduri Laot sebagai upacara ujud syukur mereka kepada Tuhan. Meski digelar setiap tahun, tahun 2018 adalah pertama kalinya upacara ini dilaksanakan secara akbar dengan konsep festival. Dihadiri juga oleh masyarakat dan pejabat terkait, Festival Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir Khanduri Laot diadakan di area Dermaga Container (CT-3) Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS).

Serangkaian prosesi digelar, mulai dari aksi balas pantun, seumapa, pembacaan ayat kursi, pelantunan syair Aceh, penyantunan anak yatim, pelepasan kapal pukat, sampai aksi tarian seni air tradisional. Gelaran ini juga sebagai wadah sosialisasi kearifan lokal tentang laut. Apalagi keberadaan panglima laut menjadi penting dalam tatanan kehidupan sosial nelayan di Aceh.


Ritual Pemersatu
Lembaga panglima laut bisa menjadi mediator bila ada selisih atau sengketa antar nelayan. Panglima laut dapat menjadi mediator bila ada sengketa dan menjadi penghubung antara nelayan dengan pemerintah. Selain itu bisa menjadi lembaga yang menjaga ekosistem laut, dan yang terpenting panglima laot itu menjadi pemersatu masyarakat pantai dan lautan di ujung paling barat Indonesia.

Filosofi yang terpenting dari Kenduri Laot adalah rasa syukur seluruh nelayan terhadap apa yang telah didapatkan dari laut. Laut menjadi sumber rezeki bagi nelayan yang tinggal di pesisir, khususnya masyarakat Sabang.

"Pemkot Sabang mengusulkan untuk menggelar Khanduri Laot kepada Kemendikbud sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki Allah dari seluruh masyarakat Sabang, serta melestarikan adat istiadat budaya warisan leluhur Aceh yang harus terus dilestarikan," ujar Wali Kota Sabang Nazaruddin dalam pidato sambutannya. Festival ini, menurut Nazaruddin, pun semakin mengukuhkan kembali keberadaan lembaga adat seperti panglima laot yang telah eksis sejak ratusan tahun lalu. "Selama ini para panglima laot terus ada, terutama memimpin persekutuan adat di wilayah laut," ujarnya

Menurutnya, ini bisa menjadi daya tarik wisatawan mancanegara datang ke Sabang. Mereka selama ini tidak pernah melihat kebiasaan nelayan yang ada di Aceh saat sebelum dan sesudah melaut. “Dengan adanya acara Kenduri Laot ini akan bisa mendatangkan banyak wisatawan mancanegara ke Sabang nantinya,” ucapnya.