Jejak Perang Dunia di Situs Peningki Lama

Kota Tarakan sering disebut sebagai kota ratusan bunker, karena saking banyaknya bunker di kota penghasil minyak itu. Seperti apa benteng pertahanan penjajah Belanda di masa lalu? Temukan jejaknya di Situs Peningki Lama.

Kekayaan alam yang terkandung bumi Tarakan membuat kabupaten di Kalimantan Utara ini  sudah bersinggungan dengan dunia luar sejak dulu. Tarakan banyak menyimpan peninggalan bersejarah. Bahkan ada yang menyebut Tarakan sebagai kota ratusan bunker. Konon ada 200an bunker di Tarakan, namun baru separuhnya yang ditemukan.

Bunker-bunker ini dibangun tentara Belanda saat menghadapi Perang Dunia II pada era 1930an. Kekayaan alam Tarakan, khususnya minyak bumi, membuat penjajah Belanda berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan Tarakan.  Untuk itulah pada kurun waktu tahun 1936 – 1939 dibangun sejumlah benteng pertahanan yang dilengkapi bunker, meriam pantai, dan tempat pengintai. Pertempuran di Tarakan sendiri meletus pada Januari 1942.

Saksi Sejarah

Salah satu saksi sejarah pertempuran di Tarakan itu adalah situs Bukit Peningki Lama yang terletak di Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur, Kota Tarakan. Dari Bandara Internasional Juwata Tarakan, situs ini bisa dicapai dalam waktu 30-45 menit berkendara.

Kawasan Cagar Budaya seluas 6,1 hektar ini berada di atas bukit yang mengarah ke laut dan berhadapan langsung dengan pulau Kalimantan. Cocok bagi mereka yang hobi tracking, Untuk mereka yang tak terlalu suka jalan kaki, sudah dibuat jalan setapak yang dilengkapi pondok-pondok kecil untuk beristirahat.

Situs Bukit Peningki Lama memiliki tiga meriam artileri pantai buatan tahun 1902, empat bunker pengintai, dan satu gudang ransum. Situs ini dahulu merupakan basis utama pertahanan Belanda untuk mengawasi jalur laut dan darat memasuki Tarakan dari arah selatan.

Diduga ‘benteng’ ini dibangun untuk mengamankan sarana vital Belanda yakni pelabuhan laut dan udara serta tambang minyak dan kota Tarakan. Sejak tahun 1869, Tarakan telah menjadi pangkalan kapal perang Belanda untuk mengawasi sisi utara Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia Timur yang saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris.

Termodern di Zamannya

Memasuki area situs, kita dapat menyaksikan meriam-meriam buatan Fried Krupp Essen Jerman tahun 1902 disusun berdekatan dengan garis pantai. Meski sejumlah onderdilnya sudah hilang, tetap terbayang bagaimana garangnya meriam itu di zaman dahulu.

Suasana pertempuran lebih terasa saat menelusuri bunker-bunker yang ada. Bunker-bunker ini merupakan tempat berlidungnya para serdadu sambil menyerang musuh. Bunker itu beradadi tempat tersembunyi, tertutup oleh tanah dan hanya ada sedikit celah untuk membidik musuh yang ada.

Tempat terakhir yaitu merupakan gudang logistik. Gudang tempat penyimpanan ransum untuk mendukung pertempuran. Gudang ransum ini hanya terlihat pintu depannya, bagian lain tertutup tanah. Selain untuk kamuflase juga untuk meminimalisir getaran yang terjadi.

Usai merasakan suasana pertempuran di era Perang Dunia II, kita bisa beristirahat sambil menikmati sepoi angin laut Pulau Tarakan.