Ragam Motif dan Makna Kain Tenun Ikat Khas Flores

Salah satu oleh-oleh wajib jika mengunjungi Flores ialah kain tenun ikatnya. Ini merupakan salah satu ciri khas yang dimiliki Flores. Bahkan setiap daerah memiliki motif dan makna yang berbeda-beda, loh!

Setiap motif dalam kain tenun Flores punya makna yang berbeda. Beberapa motif di antaranya; motif belah ketupat yang menggambarkan persatuan antara pemerintah dan rakyat. Motif garis segitiga naik turun menggambarkan gunung yang mengapit Pulau Flores. Motif juga dibedakan antara kain untuk wanita dan pria. Motif untuk kain pria lebih sederhana dibandingkan kain untuk wanita.

Beberapa dearah yang menjadi sentra penghasil kain tenun ikat Flores adalah Maumere, Sikka, Ende, Manggarai, Ngada, Nage Keo, Lio, dan Lembata di bagian timur Flores. Setiap daerah atau etnis memiliki ragam motif, corak dan warna berbeda-beda dalam membuat kain tenun ikat. Keragaman tersebut merupakan bentuk pengejawantahan simbol-simbol yang merepresentasikan etnis, adat, religi, dan hal lainnya dari keseharian masyarakat.

Kain tenun khas daerah Sikka, biasanya selalu menggunakan warna gelap seperti hitam, coklat, biru, dan biru-hitam. Motifnya, terdapat beberapa jenis yang khas, yaitu motif okukirei yang berdasarkan kisah tentang nenek moyang sub-etnis Sikka yang dulunya adalah pelaut ulung. Figur nelayan, sampan, udang, atau kepiting menjadi ciri khas bagi kain jenis motif ini.

Terdapat pula jenis motif mawarani yang dihiasi dengan corak bunga mawar. Konon, motif ini merupakan motif khas yang khusus diperuntukkan bagi putri-putri Kerajaan Sikka. Motif ini kini menjadi favorit kaum perempuan.

Sementara itu, tenunan di daerah Ende banyak menggunakan warna cokelat dan merah serta memadukannya dengan ragam hias motif bergaya Eropa. Hal ini karena letak strategis Ende di pesisir selatan Flores yang memungkinkan orang-orang Ende zaman dahulu mudah berhubungan dengan bangsa pendatang. Ciri khas lain motif kain tenun ikat Ende adalah penggunaan hanya satu jenis motif pada bidang di tengah-tengah kain.

Di kalangan sub-etnis Lio, terdapat motif yang langka yang disebut omembulu telu (tiga emas). Menurut kepercayaan masyarakat lokal, kain tenun motif ini dapat membuat pemiliknya menjadi kaya raya.

Lio merupakan salah satu daerah yang menonjol dalam hal pembuatan kain tenun ikat, karena terbilang halus dan rumit. Jenis motif kain tenun ikat Lio mendapat pengaruh dari kain patola India, yang dibawa oleh pedagang dari Portugis pada abad ke-16, sebagai komoditi barter dengan rempah-rempah. Kain tenun ikat dengan motif patola bernilai tinggi, sebab biasanya diperuntukkan bagi raja-raja, pejabat, dan tokoh adat atau pendiri kampung.

Kain patola sangat istimewa dan berharga, bahkan ikut dikuburkan saat seorang raja, pejabat, atau bangsawan meninggal dunia, loh. Motif yang menjadi khas kain Lio adalah motif ceplok serupa jelamprang pada batik lalu dihiasi dengan motif dahan dan daun. Ciri khas motif tenun ikat Lio yang lain adalah bentuk geometris, manusia, biawak, dan lainnya yang biasanya berukuran kecil dan disusun membentuk jalur-jalur berwarna merah atau biru di atas dasar kain yang berwarna gelap.

Kain tenun ikat khas Manggarai dan Ngada cenderung menggunakan warna-warna terang seperti hijau, merah, putih, atau kuning (emas). Diperkirakan kecenderungan terhadap pemilihan warna cerah ini mendapat pengaruh dari tenun ikat Sumba dan Sumbawa.

Nah, itulah kain tenun ikat khas Flores yang di setiap daerahnya memiliki ragam keunikannya tersendiri. Jadi, kalau Sobat Pesona berlibur ke daerah Flores yang lupa untuk membeli kain tenun ikatnya, ya!