Air Terjun Anenderat, Tujuh Tingkat Keindahan di Tambrauw

Tak ada suara lain semerdu air terjun Anenderat di Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw. Suaranya memecah sunyi perkampungan berpenghuni 1.000 penduduk tersebut.

Tersamar nyanyi burung-burung Cenderawasih, suasana ini lekat di pendengaran tim ekspedisi yang tiba di distrik tersebut pada suatu sore di pertengahan tahun lalu. Tak sia-sia waktu perjalanan kami 3 jam dari Distrik Fef, Ibu Kota Kabupaten Tambrauw, yang penuh halang-rintang. Pengalaman menemukan air terjun yang belum terjamah ini bakal terpatri dalam ingatan.

Masih dengan mobil yang sama, yakni kendaraan double cabin, tim ekspedisi menempuh perjalanan hampir 100 kilometer dari Distrik Fef menuju Distrik Miyah. Tujuan perjalanan kali ini ialah menyambangi air terjun kondang bagi penduduk lokal, Anenderat. 

Sepanjang penjelajahan, rupa-rupa permukaan jalan menghalau. Ada jalan yang tersapu lumpur, ada pohon yang tumbang, pejalan tak bakal tahu apa yang dihadapinya berkilo-kilo meter di depan sana. 

Sepanjang perjalanan Fef menuju Miyah, kanan dan kiri jalanan itu adalah hutan rapat dan belantara yang tak tertembus mata. Hanya satu-dua perkampungan yang tampak memberi variasi. Perkampungan itu pun bukan perkampungan besar. Penampakannya hanya berupa blok-blok permukiman dengan jumlah penduduk tak sampai 50 orang. 

Dalam hitungan jam, mobil berhenti tepat di tepi jalan lintas kabupaten. Papan sederhana bertuliskan “Air Terjun Anenderat” membuat tim bernapas lega. Akhirnya, perjalanan panjang itu usai—pikir kami. 

Tampak sebuah lapangan dan gedung lumayan besar di samping papan Air Terjun Anenderat itu. Rupanya, ini adalah kompleks kantor distrik. Di sini pula denyut kehidupan masyarakat Distrik Miyah berpusat. Warga lokal bercerita, di balik distrik itu bernaung sebuah air terjun tujuh tingkat yang sangat indah. Arusnya deras, hingga suara limpahannya terdengar sampai ke jalan raya. 

Benar saja, deru air terjun itu sampai ke telinga tim ekspedisi Pesona Indonesia. Tak lama kemudian, tim menuju Air Terjun Anenderat. Perjalanan menuju air terjun tak bisa ditempuh dengan berkendara. Kami harus melintasi perkampungan dengan berjalan kaki, menyeberang Sungai Kamundan dengan arus tinggi, sekitar lutut orang dewasa. Para warga lokal menuntun tim ekspedisi membelah sungai, melawan arus yang laju.    

Seusai mengarungi sungai itu, tampaklah air terjun yang dimaksud, Air Terjun Anenderat. Air terjun ini benar-benar memiliki tujuh tingkat. Tampak bebatuan yang menjadi landasan luncur air itu membentuk undak-undakan sebanyak tujuh kali.

Air akan meluncur melalui tiap-tiap tingkatan, mengalir menuju hilir sungai besar di Distrik Miyah. Daya tarik utamanya ialah tinggi luncuran air terjun yang mencapai sekitar 200 meter. Air terjun bisa dijangkau sampai tingkat paling atas oleh masyarakat sekitar.

Suara limpahan Air Terjun Anenderat mengalun bersama kicauan burung Cenderawasih. Ya, air terjun ini berlokasi tepat di tengah habitat burung endemis Pulau Papua itu. Harmonisasi mengalun merdu. Duduk sebentar sambil memejamkan mata rasanya membuat hati teduh. Kecamuk pikiran lenyap bersama nyanyian alam. 

Air terjun ini memberi kesan lain pada penjelajahan mengeksplorasi Tambrauw. Tak terduga, bentang alam mendekati sempurna ini sama sekali belum terjamah oleh lensa-lensa kamera para turis.