Tenun Flores, 20 Tahapan dalam 3 Purnama

Tak sekadar kain yang istimewa, tapi sebuah karya seni. Pemakaian kain dibedakan sesuai status sosial dan strata masyarakatnya. Biasanya motif-motif khusus juga dibuat untuk pakaian kalangan keluarga raja, untuk upacara adat atau untuk keseharian.

Kain tenun Flores dulunya menjadi kain yang istimewa. Pemakaian kain ini dibedakan sesuai dengan status sosial dan strata masyarakatnya. Biasanya motif-motif khusus juga dibuat untuk pakaian kalangan keluarga raja, untuk upacara adat atau untuk keseharian.

Proses pembuatan kain tenun Flores memakan waktu yang tidak sebentar. Pembuatannya bisa mencapai 20 tahapan. Untaian benang dicelup dengan pewarna lalu dikeringkan. Pewarna untuk benang ada yang dari pewarna kimia dan pewarna alam. Kain yang terbuat dari pewarna alam harganya lebih mahal dari kain yang menggunakan pewarna buatan, karena proses pembuatannya lebih lama dari kain dengan pewarna kimia.

Setelah melalui proses pengeringan, benang kemudian ditenun menjadi selembar kain. Lama penenunan berbeda-beda tergantung panjang kain. Rata-rata satu orang membutuhkan waktu 1-3 minggu untuk menenun selembar kain.

Pada umumnya kain tenun ikat Flores yang dibuat oleh kaum wanita berbahan dasar kapas yang dipilin menjadi benang oleh penenunnya sendiri, berbenang kasar, pewarnaan benang terbuat dari racikan beberapa jenis tumbuhan khas Flores, seperti mengkudu, tarum, zopha, kemiri, ndongu, buah usuk dan lain–lain.

Teknik pembuatan motif kain tenun dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi. Pekerjaan ini dapat berlangsung selama dua hingga tiga purnama. Pencelupan benang yang dipilin dari kapas dilakukan satu persatu untuk setiap bakal kain sarung, meskipun kadang juga dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung.

Ketika kerajaan-kerajaan lokal di Flores masih ada, sejumlah kelompok wanita bekerja khusus sebagai pembuat kain tenun untuk kebutuhan kalangan raja-raja di istana.

Dahulu ada pembedaan pakaian adat berdasarkan status sosial, sekarang tidak lagi. Kini kain tenun ikat Flores dibuat untuk dijual di pasar, dipakai sehari-hari dan untuk upacara adat.

Semua kain tenun ikat Flores harus ditenun dengan alat tenun yang sangat tradisonal, dililit di pinggang wanita penenun, melekat tak terpisahkan. Kapas yang telah dipilin menjadi benang oleh seorang wanita penenun pun ditenun dua hingga tiga purnama saban hari menggunakan alat tenun sangat tradisional yang terdiri dari konggo, kape, fia, phoku dan sippe.

Alat-alat tenun sangat tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu itu, berpadu melilit pinggang wanita penenun dari mentari setinggi tombak hingga sore menjelang. Tiap gerakan dua tangan terampilnya memadukan alat-alat tenun, menghadirkan alunan sentakan menggoda, tercipta nada yang seakan melafazkan jeritan kehidupan.

Meski terdapat kesamaan dalam bahan-bahan, teknik membuat benang, alat tenun, teknik menenun dan meracik warna, namun tiap wilayah di Flores mewarisi motif tenun yang beragam.