Enggang, Burung Keramat Suku Dayak

Burung Enggang memiliki paruh berbentuk cula, dianggap sebagai burung suci bagi masyarakat Dayak. Ia tidak pernah terbang rendah dan tidak pernah makan di tanah. Masyarakat suku Dayak meyakini bahwa burung enggang adalah jelmaan sosok sakti, Panglima Burung.

Hampir keseluruhan bagian tubuh enggang selalu disimbolkan dalam benda yang digunakan dalam keseharian masyarakat Dayak. Misalnya rumah adat, baju adat, bahkan tattoo yang melambangkan burung ini.  Bulu-bulu burung enggang juga menjadi hiasan dalam pakaian adat suku Dayak Kenyah dan atribut dalam tarian tradisionalnya.

Burung ini juga menjadi ornamen yang tersebar di dalam Lamin Adat, rumah tradisional suku Dayak,  seperti di pintu, di tembok, di langit-langit serta di atribut yang dikenakan masyarakat suku Dayak. Warna merah, hitam, kuning, dan putih dari bulu burung Enggang diadaptasi sebagai warna-warna ukiran kayu ulin yang menghiasi Lamin Adat.

Simbol Kebesaran dan Kemuliaan

Pada kenyataannya, burung Enggang adalah salah satu burung langka yang dilindungi di Indonesia. Burung indah dengan paruh bertanduk ini memiliki karakter yang istimewa. Karakter hewan sebagai simbol kebesaran dan kemuliaan yang melambangkan suku Dayak.

Burung enggang memiliki kebiasaannya hinggap di tempat tinggi, seperti pohon-pohon tinggi dan gunung-gunung menjadi tempat favorit. Burung ini juga melambangkan kesetiaan pada pasangan, kesetiaan burung ini terbukti saat enggang betina bertelur. Enggang betina akan tinggal di lubang pohon mengerami telurnya, hampir empat bulan lamanya. Sedangkan Enggang jantan akan menemani dan memberikan makanan dari lubang sempit yang dibuat untuk menjaga telur dan betina yang sedang mnegeram.  Dan bila salah satu mati, maka yang masih Enggan yang masih hidup tidak akan kawin lagi.

Burung yang populer disebut hornbill dari bahasa Inggris ini pun sangat mencolok karena suaranya yang menggelegar, yang biasa menjadi tanda persiapan sebelum terbang. Suara yang keras dianggap simbol seorang pemimpin yang selalu didengarkan rakyatnya.

Bagian tubuh burung Enggang yang dikagumi adalah bagian sayap dan ekor. Sayapnya yang tebal merupakan simbol dari pemimpin perkasa yang dapat melindungi rakyatnya. Saat dikepakkan, sayap enggang mengeluarkan bunyi yang khas dan dramatik. Sedangkan ekor yang panjang melambangkan kemakmuran yang luas melingkupi masyarakat yang dipimpin.

Burung enggang menghuni seluruh hutan di Pulau Kalimantan, tempat tinggal Suku Dayak. Ada beberapa spesies yang tinggal di Kalimantan, antara lain Buceros rhinoceros dan Buceros bicornis. Burung enggang, yang dikenal juga dengan nama burung tingang umumnya berbulu hitam dengan paruh berwarna cerah.

Di dunia, terdapat 57 spesies enggang yang tersebar di Asia dan Afrika, 14 di antaranya ada di Indonesia. Dari 14 spesies tersebut, 3 di antaranya termasuk spesies endemik yang tidak terdapat di negara lain. Dari berbagai spesies yang ada, enggang gading adalah yang terbesar dan menjadi target para pemburu liar karena paruhnya amat mahal.

Sekarang, burung yang berperan dalam penyebaran benih pohon di hutan ini menjadi burung yang sangat langka dan sangat sulit ditemui di hutan Kalimantan. Penyusutan populasi enggang berakibat pada pelambatan pertumbuhan benih-benih pohon.