Nikmati Liburan Eksotis ke 6 Kampung Dayak Ini, Yuk!

Tak harus menjelajah pedalaman, sejumlah kampung Dayak yang masih memiliki dan memegang teguh budaya dan adat Dayak kini menjadi desa wisata. Pengalaman yang disuguhkan jelas istimewa. Dari kemegahan rumah panjang, air terjun di tengah hutan tropis hingga mencicip tuak manis Dayak.

Desa wisata tidak hanya menjaga dan melestarikan budaya Dayak, tetapi juga memberikan pengetahuan pada masyarakat di luar bahwa kearifan budaya Dayak yang unik. Pembentukan desa wisata juga menjadikan mata pencaharian baru kepada masyarakat untuk tetap memelihara lingkungannya.

Menariknya, bila waktu kita hanya terbatas, kita masih bisa menikmati eksotisnya atmosfer kampung Dayak di 6 desa wisata berikut. Lokasinya tak jauh dari pusat kota dan mudah dijangkau. Bahkan yang paling alami pun bisa dicapai dengan perahu dalam perjalanan satu hari bolak balik. Weekend getaway ke Kampung Dayak, kenapa enggak?

Desa Wisata Pampang

Desa Pampang adalah sebuah desa budaya yang berlokasi di Sungai Siring, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.  Dihuni oleh Suku Dayak Apokayan dan Kenyah yang sebelumnya berdomisili di wilayah Kutai Barat dan Malinau.

Desa wisata ini diresmikan Juni 1991. Tujuannya, memelihara dan melestarikan adat istiadat dan budaya masyarakat Dayak. Di lokasi ini setiap tahun digelar acara memperingati ulang tahun Desa Pampang, yaitu Pelas Tahun. Desa ini merupakan desa Dayak paling dekat pusat kota Samarinda, terletak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Samarinda. Di desa ini kita bisa menjejakkan kaki di kemegahan Lamin Adat Pemung Tawai, daya tarik utama desa Pampang.

Rumah adat terbuat dari kayu ulin dengan hiasan dan ukiran di hampir semua bagian dinding dengan warna hitam, putih, dan kuning yang dominan. Tiang penyangga rumah yang berdiameter dua meter juga dihiasi ukiran indah. Dibagian atap yang terbuat dari kayu sirap, terdapat ukiran kokoh di tengah atap dan sudut-sudutnya.

Kampung Purbakala Merabu

Kampung Merabu berada di wilayah Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Kampung ini bisa ditempuh dari Kota Samarinda selama 12 jam, atau mendarat langsung di Berau dilanjutkan jalan darat selama empat jam. Kampung seluas 22 ribu hektare ini sebagian besar masuk areal hutan lindung dan seluas 8.245 hektare, di antaranya ditetapkan sebagai kawasan Hutan Desa.

Kampung ini menyimpan berbagai situs purbakala dan mitos masyarakat Dayak Basaf yang tersembunyi di dalam kawasan hutan tropis di dalam Gua Beloyot. Di situs prasejarah di Gua Beloyot terhampar tapak-tapak tangan yang diyakini berusia lebih 4.000 tahun. Pada dinding dan langit-lagit gua juga terdapat lukisan hewan dan perisai khas Dayak. Letak tapak tangan menunjukkan derajat masyarakat Dayak pada zaman itu. Semakin tinggi letak tapak tangan, semakin tinggi kasta sesorang.

Pesona alam Kampung Merabu kian sempurna dengan Danau Nyadeng yang memiliki air sangat jenih. Untuk mencapainya harus ditempuh menggunakan perahu ketinting selama setengah jam dari Kampung Merabu, kemudian dilanjutkan berjalan kaki selama hampir satu jam.  Danau Nyadeng yang terkenal dengan kejernihan dan keindahan alamnya, serta berbagai satwa langka dan dilindungi.

Desa Wisata Pulau Sapi

Desa Wisata Pulau Sapi di Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau,  memiliki ciri khas rumah dengan ukiran Dayak Lundayeh. Rumah-rumah masyarakat di desa ini dicat warna warni  dan terdapat dua patung dan replika buaya di Balai Adat Desa Pulau Sapi. Masyarakat di desa ini setiap tahun menggelar Festival Aco Lundayeh, dengan pagelaran seni dan budaya sebagai tindak lanjut kesepakatan antara suku Lundayeh yang ada di Indonesia, Sabah dan Serawak Malaysia, Brunei Darussalam yang semuanya berada di wilayah Pulau Borneo.

Malinau, merupakan kabupaten parisiwata, yang telah ditetapkan lima desa di antaranya menjadi desa wisata, Desa wisata Long Alango, Desa Wisata Budaya Serindit Malinau Seberang dan Desa Wisata Apau Pin, Desa Wisata Setulang, serta Desa Wisata Pulau Sapi.

Desa Pulau Sapi, kota kecil di kecamatan Mentarang kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara menyimpan sejuta pesona baik dari segi sumber daya alamnya yang melimpah maupun sumber daya manusianya. Nama Desa Pulau Sapi berasal dari pulau yang terletang di sungai Mentarang, karena konon terdapat seekor sapi yang katanya hanyut dari kerayan dan terdampar di pulau yang ada di sungai mentarang dalam kondisi masih hidup. Dari sinilah awal nama Desa Pulau Sapi.

Rumah Lamin Mancong

Lamin adalah rumah panjang khas suku Dayak yang terbuat dari kayu. Lamin Mancong sendiri adalah rumah kayu khas suku Dayak Benuaq. Kayu yang digunakan adalah kayu ulin, prinsip Lamin Dayak adalah rumah yang tidak bertingkat. Rumah ini biasanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan acara adat dan tujuan wisata.

Lokasinya dekat dengan objek wisata Tanjung Isuy dan Danau Jempang, Kutai Barat. Berdiri di atas lahan seluas 1.005 meter persegi, rumah Lamin Mancong terdiri atas bangunan 2 lantai dengan halaman yang luas di depannya. Daerah sekitar Lamin Mancong juga terasa sangat asri karena dikelilingi pohon-pohon dan sebuah aliran sungai. Ada berbagai jenis patung berdiri tegak di halaman depan Lamin Mancong.

Konon, keberadaan patung ini adalah sebagai tanda jumlah kerbau yang telah disembelih. Kerbau-kerbau ini disembelih sebagai bentuk penghargaan terhadap arwah leluhur yang dianggap berjasa. Semua ini dilakukan dalam sebuah ritual adat bernama Ritual Kuangkai.

Desa Wisata Loksado

Loksado adalah Desa Masyarakat Dayak yang Menawan di Tengah-tengah Pegunungan Meratus yang Rimbun, tepatnya berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Loksado merupakan rumah bagi kelompok etnis Dayak Meratus di Kalimantan yang menempati rumah-rumah tradisional yang disebut Balai.

Setidaknya ada 43 dari Balai ini yang dapat ditemukan di 9 desa di Loksado, di antaranya, yang paling menonjol adalah Balai Hambawang Masam, Balai Adat Malaris, Balai Kacang Parang, hingga Balai Haratai. Sebuah Balai merupakan rumah panjang kayu tradisional dengan puluhan kamar berukuran 3x4 meter dan ditempati oleh puluhan keluarga.

Balai digunakan untuk ritual keagamaan Dayak Meratus, mengikuti sebuah agama kuno yang disebut “Kaharingan”yang diterjemahkan berarti "hidup". Iman ini mencakup konsep Dewa Agung dan menekankan harmoni antara manusia, antara manusia dan alam, dan harmoni antara manusia dan Tuhan.

Desa Wisata Lopus dan Tapinbini

Masyarakat Dayak di Desa Lopus, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Dua desa di pelosok Kalimantan Tengah ini menyuguhkan pertunjukan tradisi dan lifestyle tradisional suku Dayak dan lingkungan hidupnya yang masih alami.

Masih dalam rangkaian Garung Pantan, warga kampung selalu menyambut tamunya dengan tuak manis di dalam sepotong bambu. Di Tapinbini, welcome drink tuak manis disajikan dalam tanduk kerbau. Kemudian para pengunjung ditunjukkan cara mengupas kulit kayu, dan menjadikannya sebagai bahan untuk membuat pakaian, ikat kepala, dan topi tradisional yang disebut lawung.

Di Tapin Bini, mereka bisa menyaksikan bagaimana masyarakat Dayak memproduksi beras dengan cara ditumbuk. Juga dapat menonton dan mencoba permainan tradisional, serta  menyaksikan dan mencoba menggunakan sumpit, senjata tradisional khas Dayak.