Napak Tilas Jejak Petilasan Injil di Pulau Dua

Tak banyak orang tahu bahwa di sinilah sejarah Kristen Injil di Indonesia itu bermula. Tempat itu bernama, Pulau Dua, yang masuk dalam gugus pulau di Tambrauw, Papua Barat.

Kapal cepat pinjaman Dinas Perhubungan yang ditunggangi tim ekspedisi Pesona Travel pelan-pelan menyentuh bibir pantai. “Blaaaar….” riak-riak gelombang menyentuh ekor kapal kami. Inilah saatnya kami turun, menjamah sebuah pulau tak berpenghuni di perairan Tambrauw, Papua Barat bernama; Pulau Dua.

Angin pantai seperti biasa, menjadi penyapa paling utama. Lanskap di depan terlalu sayang dilewatkan. Alih-alih merapikan rambut yang tertiup angin, kami lebih memilih menjangkau pasir dengan segera. “Bluung” kaki kami terpendam pasir Pulau Dua untuk kali pertama. 

Warna pasir itu begitu kontras dengan rona kaki yang sudah menghitam hingga legam. Disorot sinar matahari, pasir Pulau Dua begitu berkilau. Penampakannya layak kristal yang telah ditumbuk berkali-kali. Teksturnya seperti bakal tepung yang lebih dari dua-tiga kali diayak.

Berdampingan dengan pasir, air laut itu begitu menarik dan sayang untuk tak dilirik. Penampilannya bening dan bergradasi. Ada Tosca, Biru muda, hingga Biru tua menyapu mata. 

Ikan warna-warni tak sekali-dua kali melintas. Bahkan, ada ikan yang sama sekali belum pernah kami lihat wujudnya. Tubuhnya ditutupi bercak-bercak kuning, merah, hijau, dan biru. Tak tergambar lagi polanya. Ikan itu menyusup di antara karang yang tampak dari daratan dan bisa dipandang jelas dengan mata telanjang.

Pulau Dua, tak ada kata lain kecuali menawan. Namun, kata penduduk lokal, mengunjungi Pulau Dua tak boleh cuma menyaksikan penampilan luarnya. Sebab, di balik keindahan pulau itu, ada kisah yang tak terlepas dari sejarah awal-mula peradaban masyarakat di Tambrauw yang tinggal di daratan seberang Pulau Dua.

“Yonas, seorang guru injil, mendarat pada 12 Agustus 1912 di Pulau Dua.” Kalimat  Wakil Bupati Tambrauw, Mesak Matusalak Yekwam, ini begitu menjelaskan kedudukan Pulau Dua bagi masyarakat Tambrauw.

Ya, dari kalimat inilah jejak misionaris Yonas Nandisa terungkap. Yonas adalah pembawa kabar Kristen Injil pertama di Tambrauw, Papua Barat. Ia mendarat di Pulau Dua bersama para pengikutnya. 

Dalam prasasti petilasan Kristen Injil di perut perkampungan Pulau Dua, diketahui Yonas merupakan salah satu penyebar ajaran Nasrani di sana. Pulau Dua pun dinobatkan sebagai tempat bersejarah bagi masyarakat Kristen. Berkat dialah 90 persen masyarakat Tambrauw menganut ajaran agama tersebut. 

Petilasan Yonas itu diejawantahkan dalam rupa monumen atau tugu. Dulu kala, di dekat tugu tersebut berdiri sebuah gereja. Namun, bangunan tempat ibadah itu lambat-laun rusak. Perkakasnya dicuri para awak kapal yang mendarat. Hingga terakhir kali, hanya ditemukan sisa bangunan.

Lonceng pun tak berbekas. Gereja itu dikabarkan koyak pada Perang Dunia II. Kala itu, terjadi pertempuran Sekutu yang mempreteli pertahanan Jepang di wilayah Papua Barat. Pulau Dua pun ikut menjadi korban keganasan pertarungan para tentara.

Dulu, memang ada masyarakat yang tinggal di sekitar gereja itu. Namun, sewaktu perang, warga diungsikan ke Pulau Biak. Puluhan tahun, pulau kosong tak bertuan. Itulah yang membuat pencuri leluasa mengangkut perkakas-perkakas gereja. Namun, dalam satu dekade terakhir, masyarakat menyadari bahwa keberadaan gereja itu menjadi sejarah yang penting. Warga pun kembali membangun petilasan ini. 

Sampai sekarang, tiap Agustus, mereka merayakan ulang tahun Kristen Injil. Bangunan gereja yang telah teronggok itu mulai dihidupkan kembali. Pada masa-masa tertentu, seperti masa panen, masyarakat berkumpul di pulau untuk beribadah. Kini, mereka sedang mengupayakan pembangunan kembali tugu itu.

Petilasan Yonas berpotensi menarik wisatawan yang gemar dengar cerita sejarah. Untuk menjamah Pulau Dua, wisatawan harus menunggang speedboat dari Pelabuhan Sausapor. Waktu tempuh dari pelabuhan sampai pulau itu kira-kira1 jam.

Sambil belajar sejarah, kita pun dapat menjajal menyelam lautan pulau itu. Konon, di dasar laut, berdiam kapal dan pesawat yang ditenggelamkan pada masa Perang Dunia II. Belum banyak penyelam yang mengetahui harta karun di bawah perairan Pulau Dua ini.

FOTO: SENDY ADITYA