Topi Bulu Burung Ruai, Keindahan dan Romantisme Dayak

Ruai merupakan burung asli Borneo yang bulunya digunakan sebagai hiasan pelengkap baju adat dan diletakkan pada kepala yang diikat kain maupun dipasang pada topi khas Dayak. Setiap sub suku Dayak memiliki arti atau makna tersendiri yang berbeda-beda atas aturan pemakaian bulu burung tersebut.

Burung Ruai merupakan sejenis burung merak yang hidup di daerah hulu Kapuas, hanya  ditemukan di rimba dalam yang masih asri yang kini keberadaannya sudah semakin sulit ditemukan. Selain diburu, burung ini juga terhimpit akibat habitatnya karena perusakan hutan.

Penggunaan bulu burung ruai pada pakaian adat Dayak memiliki makna keindahan. Burung yang dikenal sebagai burung yang sangat lincah, elok dan menawan. Gayanya yang lincah mengingatkan orang Dayak akan kelincahan nenek moyang mereka dalam menjaga dan melestarikan keharmonisan alam.

Kecantikan Perempuan Dayak

Burung ruai memiliki perawakan yang sangat indah ini oleh masyarakat Dayak dianalogikan untuk kecantikan perempuan dayak misalnya: Buok kau saja macamp langai Ruai (Bahasa dayak Barai: artinya: Rambutmu indah bagaikan ekor burung ruai) yang memunculkan romantisme, yang membangkitkan semangat hidup bagi kaum perempuan.

Pakaian adat Dayak yang bermacam-macam, menggunakan bulu burung ruai sebagai penghias. Salah satunya sub suku Dayak Salako,  pakaian adat Dayak Salako yang antara lain berupa:  biusuk yaitu gelang tangan dan gelang untuk kaki dengan kapuak yang merupakan penutup aurat laki Suku Dayak Salako dan celana untuk kaum perempuan.

Kandit merupakan sebuah ikat pinggang, ikat kepala warna merah untuk kaum laki-laki dan kedung merah untuk kaum perempuan serta topi dengan paruh burung Enggang yang menjadi ciri khas Suku dayak Salako. Bulu burung Ruai dipakai sebagai pemanis yang diselipkan di ikat kepala.  Busana Dayak Salako ini dikreasikan sedemikian rupa untuk memperkaya budaya Dayak Salako dan dipakai pada acara adat kebesaran.

Ikat kepala dan topi serta bulu ekor burung Ruai menjadi ciri khas Dayak Salako yang dikreasikan dengan memberikan buah dari pohon ipuh yang dirangkai satu per satu menjadi manik-manik yang menghiasi setiap baju adat Dayak Salako.

Selain busana Dayak Salako, bulu burung ruai juga menghiasi busana masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan, berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelang-gelang, dan sebagainya.

Sedangkan penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning.

Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. Pada lelaki dikenal topi dengan nama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu ditambahkankan untaian manik sepenuh bidang kambu.

Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan, menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus dengan motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae.