5 Gereja Bersejarah di Indonesia

Banyak gereja yang dibangun sejak zaman colonial Belanda hingga kini masih berdiri megah, berfungsi dan aktif digunakan untuk kegiatan agama. Ciri khas bangunan lama dan kemegahan bangunan bersejarah ini menjadikan gereja-gereja lama ini sebagai ikon kota bahkan wisata rohani Indonesia.

Gereja Blenduk
Gereja Blenduk adalah gereja paling tua di Jawa Tengah. Berdiri sejak 1753, merupakan salah satu gedung yang digunakan pemerintah Belanda saat zaman penjajahan dulu. Gereja dengan bentuk heksagonal (persegi delapan) ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel yang terletak di Jl. Letjend. Suprapto 32, Semarang.

Kubahnya besar dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan dua menara di depan gedung gereja. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Sampai sekarang gereja ini masih dipergunakan.


Gereja Katedral Jakarta
Gereja yang dibangun di masa kolonial Belanda pada 1901 juga memiliki sejarah, karena pada 1928 salah satu ruangannya dijadikan tempat berkumpul pemuda untuk mengagas Sumpah Pemuda. Banguan bergaya neo gotik dan bernuansa Eropa. Gereja yang memiliki nama resmi  Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, S.J., Vikaris Apostolik Jakarta.

Gereja Katedral merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Jakarta. Sebelum diresmikan sebagai bangunan cagar budaya, Gereja Katedral mempunyai sejarah yang panjang dalam pembangunannya. Pembangunan Gereja Katedral dimulai ketika Paus Pius VII mengangkat pastor Nelissen sebagi prefek apostik Hindia Belanda pada 1807. Saat itulah dimulai penyebaran misi dan pembangunan gereja katolik di kawasan Nusantara, termasuk di Jakarta.

Gereja yang dibangun oleh arsitek bernama Ir MJ Hulswit, dilengkapi daun pintu yang menjulang tinggi dan banyak jendela yang dihiasi dengan lukisan yang menjelaskan tentang peristiwa jalan salib yang pernah dialami oleh Yesus Kristus. Tepat di bawah lukisan tersebut, di bagian kanan dan kiri gereja terdapat bilik-bilik yang digunakan sebagai tempat untuk pengakuan dosa. Sementara di bagian depan terdapat altar suci pemberian dari Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies. Meski sudah berumur tua, meja altar tersebut masih digunakan sebagai altar utama dalam berbagai misa.

Gereja Katedral merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan. Di dalamnya terdapat perpustakaan dan museum yang menjelaskan sejarah penyebaran ajaran Katolik di tanah Jakarta. Selain itu, lokasi Gereja Katedral yang berseberangan dengan Masjid Istiqlal menandakan sejak dahulu manusia Indonesia telah hidup dalam rasa toleransi dan kebersamaan yang sangat tinggi.


Gereja Tua Sikka
Sikka adalah nama desa sebuah kampung kecil di pesisir selatan Pulau Flores, yang menyisakan berbagai sejarah yang Gereja Tua Sikka. Gereja tua bernama Gereja St Ignatius Loyola ada sejak abad ke-14. Gereja Tua Sikka hari ini adalah bangunan yang selesai didirikan pada 1899, didasarkan rancangan Pastor Antonius Dijkmans SJ, arsitek perancang Katedral Jakarta. Gereja itu dibangun mulai 1893 dan diresmikan Pastor J Engbers SJ pada 24 Desember 1899.

Arsitekturnya bangunan bergaya Baroque, gaya arsitektur yang populer di Eropa pada zaman itu. Ornamen - ornamen dinding tembok tergambar motif - motif tenun ikat tradisional masyarakat Sikka. Konstruksi kayu dengan pewarnaan warna coklat dan kuning mendominasi pilar dan plafon. Di depan setelah pintu masuk gereja terdapat patung seorang pastor memegang alkitab dan kotak donasi.

Pintu gerbang yang dibuat Bruder van Leeuwnberg SJ bersama para tukang dari Larantuka, 113 tahun lalu. Kubah gereja menggantung setinggi 10 meter, disangga oleh jalinan kuda-kuda atap dari kayu jati yang belum pernah diganti. Lukisan kaca di atas altar pun masih lukisan altar yang dipasang para pembangunnya. Altar berlatar dinding biru dan coklat yang dipadati ornamen lembut motif kain tenun khas Sikka.

Sebuah bangunan kapel kecil di halaman utara gereja yang menyimpan Senhor dan Meniho tertutup rapat, hanya dikeluarkan pada perayaan Jumat Agung, Perarakan Suci Logu Senhor. Rumah panggung pastoran di seberang Gereja Tua Sikka. Dua meriam dari Malaka yang dibawa Pastor Fransisco Damato OP pada 1629 teronggok di sela rerumputan. Gedung pastoran baru telah dibangun di selatan rumah panggung itu.

Ada sebuah tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat di desa Sikka, Perarakan Jumat Agung. Tradisi ini telah bertahan selama 100 tahun lebih , prosesi dilakukan dengan menggotong atau mengarak patung Sinyor mengelilingi desa bertepatan pada saat Jum’at Agung. Kepercayaan masyarakat setempat siapa yang bisa menerobos di bawah patung Sinyor saat Perarakan Jumat Agung maka keinginan orang tersebut dapat terkabul.


Gereja Immanuel Jakarta
Gereja Immanuel awalnya adalah gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran di Batavia. Pembangunannya dimulai 1834 hasil rancangan J.H. Horst.  Gereja Immanuel saat ini adalah bagian dari Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) yang menganut sistem presbiterian sinodal. Untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda pada periode 1813-1840, pada gedung dicantumkan nama Willemskerk. Dahulu, Gereja Immanuel bernama Willemskerk, nama ini diberikan untuk menghormati Raja Willem I, Raja Belanda pada periode 1813-1840.

Bangunan gereja bergaya klasik bercorak bundar di atas fondasi tiga meter, menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.

Serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.

Orgel yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, orgel ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik.


Gereja Brastagi
Gereja Brastagi yang bernama Gereja Khatolik Inkulturatif Karo Santo Fransiskus Asisi memiliki keunikan dengan adanya adaptasi bentuk bangunan terhadap nilai kearifan lokal yang ada di Kota Berastagi. Gereja paroki Brastagi didirikan dengan menerapkan elemen-elemen arsitektur Karo, mengingat rumah Karo yang unik, kokoh, artistik, bersifat religius dan komunal, dan mengingat kenyataan bahwa sekarang rumah Karo sudah mulai hilang.

Gereja yang luhur dalam menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan suku tidak terlepas dari adanya tiga aspek utama yaitu fungsi, bentuk dan makna, dalam hal ini makna dari fungsi dan bentuk arsitektur gereja Katolik dalam proses inkulturasi.  Gereja St. Fransiskus Asisi Berastagi menerapkan elemen-elemen Arsitektur Karo pada bangunannya.