Menginap Semalam di Wae Rebo (Bagian 1)

Bisa merasakan tinggal semalam di salah satu desa dengan akses yang lumayan sulit adalah lifetime experience buat kita. Seharian kita berinteraksi dengan warga, dari mulai anak-anak, kakak-kakak, sampai bapak-bapak. Satu hal yang bikin kita belajar banyak dari warga Wae Rebo adalah sikap mereka yang sangat terbuka, sederhana, dan mampu bekerja sama. Keren kannnnn.

Kegiatan pertama begitu memasuki Desa Wae Rebo adalah masuk ke rumah kepala adat. Di rumah kepala adat ini semua pendatang wajib menjalani upacara adat penyambutan tamu. Kepala adat akan menggunakan bahasa adat Wae Rebo, kalau tidak salah bahasanya adalah Bahasa Manggarai, Flores. Inti dari upacara adat ini adalah mohon ijin kepada leluhur penduduk Desa Wae Rebo untuk menerima kita, para pendatang, supaya diterima di Desa Wae Rebo. Apabila sudah melalui upacara tersebut, kita bukan lagi orang asing, melainkan saudara.

Diterima sebagai saudara
Seperti layaknya saudara jauh yang datang kembali ke rumah, kita disambut dengan hangat. Setiap hari warga Wae Rebo selalu menerima orang asing dan dengan tangan terbuka mereka menyambut tiap orang asing tersebut dan menganggapnya sebagai saudara. Selain dipersilakan untuk tinggal di rumahnya, orang-orang asing ini juga diberi makan dengan hidangan istimewa mereka. Mengapa istimewa? Berbeda dengan kehidupan masa lalu warga Wae Rebo yang mengandalkan hasil kebun seperti jagung dan ubi, di masa kini warga Wae Rebo harus mengangkut bahan-bahan makanannya dari Desa Dintor naik ke atas bukit. Mereka mengangkut bahan-bahan makanan mereka dengan berjalan kaki dan memanggulnya di atas kepala. Kebun mereka saat ini digunakan untuk menanam kopi.

Sore itu kita diantar menuju rumah untuk kita tinggal semalam bersama pendatang-pendatang yang lain. Malam ini kita akan tinggal di salah satu rumah adat Wae Rebo yang berbentuk kerucut berwarna hitam. Saat kita datang sore itu, sudah ada beberapa rombongan yang menempati separuh bagian dari rumah adat. Rumah adat ini diperkirakan mampu menampung sekitar 30-35 orang. Jadi kalau separuhnya sudah ditempati, kemungkinan besar sudah ada sekitar 15 orang yang datang ke Wae Rebo lebih dulu dari kita sore itu.

Setelah memilih tempat kita tidur (disediakan matras dan selimut tebal yang bersih dan nyaman), kita disuguhi kopi Wae Rebo. Kopinya hanya diseduh dengan air panas, atau kita orang kota menyebutnya sebagai kopi hitam tanpa ampas. Kopinya enak, tidak terlalu asam, dan cenderung segar menurutku. Kita suka. Kita memilih kopi tanpa gula, seperti yang selalu kita lkitakan saat minum kopi. Namun mereka menyediakan gula pasir untuk yang membutuhkan gula dalam kopi mereka.

Main bola dan rumah baca
Sore itu lapangan di depan rumah-rumah desa ramai dengan anak-anak yang sedang main bola. Kebetulan kita datang ke desa saat anak-anak sedang libur sekolah. Apabila masa sekolah, maka anak-anak ini akan tinggal di desa kembaran Wae Rebo - yang disebut Desa Kombo - yang terletak di bagian bawah. Desa Kombo tidak terletak di dalam hutan seperti Desa Wae Rebo. Di Desa Kombo ada sekolah, puskesmas, dan fasilitas umum lain yang lebih terjangkau dibandingkan di Desa Wae Rebo yang letaknya di tengah hutan. Baca deh artikel tentang bagaimana cara kita mencapai Desa Wae Rebo.

Selain bermain di lapangan luas, anak-anak Desa Wae Rebo juga punya taman baca. Sore itu seorang bocah lucu bernama Selis menemani kita untuk naik ke atas bukit demi berkunjung ke rumah baca. Rumah baca adalah bangunan mirip rumah adat Wae Rebo yang letaknya sedikit lebih tinggi dibanding desa. Buatku dan teman-teman jalan menuju rumah baca lumayan membuat nafas ngos-ngosan, tapi si Selis kecil yang baru berusia sekitar 4 tahun memimpin kita sambil berlari ke atas. Selain bisa bermain-main dan membaca koleksi buku di rumah baca, kita juga bisa melihat rumah-rumah kerucut Desa Wae Rebo dari kejauhan.