Seharian di Medan

Medan mengingatkan kita tentang pekerjaanku beberapa tahun lalu. Dulu kita selalu datang ke Medan tiap bulan untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Nagan Raya, Aceh.

Sebagai tempat transit semalam, kita mengingat Medan sebagai another big city in Indonesia. Lalu lintas di Medan ada macet-macetnya, tapi nggak segila macet di Jakarta. Kita juga suka Medan karena ada banyak pohon besar-besar di beberapa are. Tapi satu hal yang paling kita inget tentang Medan ya orang-orangnya. Mereka selalu bicara dengan volume suara super keras.

Kita inget ketika pertama kali tiba di Bandara Polonia Medan, porter yang menawarkan jasa ke kita lebih seperti orang membentak. Rasanya kita seperti barusan dimarahin sama bapak-bapak Batak dan saat itu kita ketkitatan. Hal yang hampir sama juga kita alami ketika mencari informasi tentang taksi. Nggak ada antrian, yang ada para sopir taksi saling teriak-teriak menawarkan jasanya. Ah gila.

Sekarang kita mau merasakan Medan dengan cara berbeda. Kali ini kita Cuma mau ke Medan untuk jalan-jalan dan liburan, bukan kerja. Medan. I expect something different on my trip this time. Yeah,, because it's my backpacking trip. Medan, what you offer me?

Lalu lintas di Medan sangan gila. Ada lampu lalu lintas, tapi sepertinya nggak terlalu berguna ya. Kalo kamu berani coba naik motor di Medan, kamu harus sangat berhati-hati. Orang-orang ini kayaknya gatel kalo lihat jalan kosong. Temenku bilang, it's '(M)edan' from words 'edan' (crazy). Hahahaha.

Tempat yang membuat kita jatuh cinta dengan Medan adalah Graha Maria Annai Velangkani. Bangunan ini adalah gereja untuk semua agama. Bangunan ini dibangun tanpa ada rancangan gambar apapun seperti umumnya bangunan yang dibangun aristek. Yang membangun ada seorang pastor, bukan arsitek.

Arsitekturnya sendiri mirip arsitektur India dengan warna-warni cerah dan detail relief di setiap sudutnya. Pastor yang membangun berasal dari India. Tiap bangunan punya symbol sendiri-sendiri. Ketika kamu memasuki gerbang, kamu bakal melihat jalan yang bentuknya seperti orang yang menyembah.

Bangunan ini terdiri dari tujuh lantai. Artinya, langit tempat surge letaknya sangat tinggi. Pada tangga di lantai kedua ada gambar-gambar yang menceritakan tentang tujuh hari penciptaan Tuhan. Di dalam hall ada banyak versi kitab suci yang ditulis di dinding.

Bangunan selanjutnya adalah Rumah Tua Tjong A Fie. Untuk masuk ke dalam Rumah Tjong A Fie kita harus membayar Rp. 35,000 rupiah. Tjong A Fie adalah salah satu orang Medan keturunan Cina yang sangat kaya.

Rumah Tjong A Fie ini sangat besar. Ada banyak detaik khas Cina yang diletakkan dengan apik di seluruh rumah. Arsitekturnya juga bagus banget. Di beberapa sudut kita bisa melihat foto-foto lama dari keluarga menghiasi rumah tua yang indah ini.
Siapa pun yang datang ke Medan, pasti harus berkunjung ke Istana Maimun. Bangunan ini adalah symbol dari Kota Medan sendiri. Kamu bisa berfoto menggunakan baju adat Melayu di dalam istana. Kamu juga bisa mendapat pernak-pernik khas Medan untuk oleh-oleh di sini.

Perjalanan piknik dan perjalanan kerja emang bener-bener beda. Kita menikmati sekali jalan-jalan di Medan seharian. Terima kasih untuk teman-teman yang bersedia mengantar jalan-jalan.