Romantisme Jurang Keles

Malam baru saja jatuh di pangkuan kota Luwuk, Sulawesi Tengah, sebuah kota teluk yang menghadirkan pemandangan laut dan pegunungan sekaligus. Di teluk, kapal-kapal niaga datang dan pergi silih berganti. Suara ombak terdengar lembut menghempas pantai. Sementara di perbukitan, lampu-lampu mulai benderang berkelip tersapu angin yang melambaikan pepohonan. Keles menunggu di sana.

Sahabat saya, Anis tampak tak sabar.  Dia sudah menjanjikan pemandangan malam dari puncak perbukitan.  Berkendara sepeda motor, saya dibonceng Anis menuju Keles.

Keles, katanya berarti pinggir jurang.  Dari bibir jurang itu, pemandangan terhampar luas pada teluk Luwuk nan benderang.

Jalanan kota yang agak sempit memaksa kami harus menikung berkali-kali. Jalan di kota banyak yang satu arah, membuat pengemudi kendaraan harus melewati jalan yang melingkar.  Pemerintah menetapkan hal itu lantaran kini Luwuk mulai berbenah, menjadi salah satu andalan wisata Sulawesi Tengah.

Kami sampai di Keles setelah hampir setengah jam berkendara.  Di bibir jurang itu, beberapa warung berjejer rapi. 

Sebuah bangunan menjorok ke tengah jurang.  Saya tak bisa mengelakkan pandangan mata pada tulisan LOVE yang berhias lampu.  Huruf O, disulap pengelola menyerupai gambar hati.  Ukurannya besar, sepuluh orang muat berdiri di huruf O itu.  Tapi pengelola hanya mengizinkan dua sampai tiga orang saja.

Dua orang pengunjung tampak sedang berswafoto di bangunan itu.  Saya memerhatikannya dari bangunan utama beratap rumbia.  Menuju huruf O, pengunjung bisa melewati dua buah jembatan kayu yang juga berhias lampu.

“Lihat, kota Luwuk,” bisik Anis.

Dia menujuk ke kejauhan.  Hamparan kota yang gemerlap.  Lampu dari kapal-kapal yang hilir mudik menambah-nambah keriangan Anis.  Pun saya yang kini mulai menggigil lantaran dingin.

Pemandangan itu mengingatkan saya pada pengembaraan Andres de Urdanette, pelaut Spanyol pertama yang berkunjung ke Banggai tahun 1532.  Dia mungkin pernah menginjakkan kaki di Keles untuk memandang ke teluk Luwuk.

Dari Keles, saya mencari lokasi dimana kami sebelumnya melahap dua ekor ikan bakar.  Di dermaga itu, bisa jadi Cornelis de Houtman pernah sandar pada 1596.  Pelaut belanda ini mengemban misi penjelajahan yang lantas melahirkan Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC, kongsi dagang Belanda di Hindia Timur pada 1602.  Ini yang lantas menjadi cikal kolonialisme di Nusantara.

Saya sesungguhnya masih ingin berlama-lama di Keles.  Tapi embun mengusir kami untuk segera kembali ke penginapan.  Saya meringkuk dalam selimut usai berjanji dengan Anis untuk menyambangi pesona Luwuk yang lain esok hari.