Duka Museum Siraja

Kabar duka menyebar pada Oktober 2018. Aji Rachmadsjah bin Datu Maharaja Dinda berpulang. Keluarga dan kerabat bersedih hati. Tapi Kaik – panggilan untuk kakek – telah menyematkan kenangan mendalam untuk Kabupetan Berau, Kalimantan Timur. Dia pernah menulis buku sejarah Berau.

Selama hampir dua puluh tahun terakhir, Kaik getol mencari sumber-sumber sejarah Berau.  Dia juga turut mengumpulkan benda-benda pusaka.  Rumahnya di Teluk Bayur, tahun 2015 disulap menjadi museum, Museum Siraja namanya.

Di museum itu, Kaik menyimpan banyak benda pusaka.  Dia mengumpulkan benda-benda itu dari keluarganya, mulai dari benda-benda peninggalan sang kakek Sultan Mohammad Amiruddin (1850-1876), hingga benda-benda peninggalan ayahnya, Datu Maharadja Dinda Mohammad Siradja.

Menurut Kaik, Kesultanan Berau mula berdiri di abad ke 14. Diperintah oleh raja pertama Baddit Dipattung bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma pada 1400 hingga 1432.  Pusat pemerintahan berada di Sungai Lati, kini menjadi areal konsesi pertambangan batu bara.

Kedatangan kolonial belanda pada mula abad 17 membuat Kesultanan Berau terbelah dua, menjadi Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.  Konflik keluarga yang berlangsung hampir tiga keturunan dimanfaatkan Belanda untuk memecah belah.

Kaik mengisahkan, sulitnya mengumpulkan benda-benda itu.  Selain tak banyak dukungan pemerintah, benda-benda bersejarah koleksi museum Siraja masih berceceran di rumah-rumah keluarga kesultanan, pun di pusat kesultanan Gunung Tabur dan Sabaliung yang kini juga menjadi museum.

Kisah Berau, kata Kaik tak akan selesai dibicarakan dalam semalam.  Selalu ada kisah yang dapat temukan dalam setiap kunjungan.  Kaik memperlihatkan koleksi samurai, guci dan beragam jenis tembikar.  Bahkan salah satu tembikarnya dapat menghasilkan suara mendengung.

Pengunjung dapat datang ke Museum Siraja dengan mudah.  Letaknya tak jauh dari Tanjungredeb, hanya sekitar 10 kilometer berkendara ke Teluk Bayur. 

Teluk Bayur sendiri merupakan kota tua dengan banyak bangunan peninggalan Belanda.  Salah satunya yang terkenal adalah gedung Serbaguna Teluk Bayur.  Gedung ini mulanya diuperuntukkan bagi pegawai Stenkollen Matschappy Parapattan, sebuah perusahaan penambang batu bara yang berdiri 1912.  Di dalam gedung ini, para pekerja biasanya berdansa dan menonton film.  Kini gedung itu dipakai untuk keperluan olah raga bulutangkis.