Senja di Untung Jawa

Matahari terbenam di balik menara suar di Pulau Untung Jawa, kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Cahaya keemasan memantul di permukaan air, sesekali pecah oleh banana boat dan perahu nelayan.

Pemandangan inilah yang ditunggu oleh pengunjung ibu kota kelurahan Untung Jawa ini. Mereka menikmati dari jembatan melengkung, pintu masuk pulau berpenghuni 50 keluarga ini. Memasuki kawasan Untung Jawa, kita seperti memasuki daerah pinggiran Jakarta. Perkampungan yang padat dengan lorong-lorong jalan yang terbuat dari semen dengan penduduk yang kebanyakan pendatang dari Jawa. Karenanya itu dinamai Untung Jawa. Pada zaman Belanda, pelayaran James Horsburg menyebut jalur Ountung Jawa Reef, sebagai pulau yang berdekatan dengan Kuyper’s Island (sekarang Cipir). Pada perkembangan selanjutnya, disebut sebagai  Amsterdam Island.

Nama Ountung Jawa kembali disebut ketika terjadi perpindahan penduduk dari Pulau Kherkof (Kelor) karena abrasi. Bek Marah, lurah Kherkof menganjurkan penduduknya pindah ke Pulau Amsterdam. Masyarakat setempat menerima perpindahan mereka, sembari berharap adanya keberuntungan. Maka pulau tersebut disebut sebagai keberuntungan orang Jawa, Pulau Untung Jawa.

Untung Jawa berkembang sebagai salah satu pusat keramaian di Kepulauan Seribu. Fasilitas umum pun lengkap di sini, mulai dari sekolah, puskesmas yang bagus, dan menara komunikasi. Selain itu, yang menjadikan pulau ini menjadi favorit untuk tinggal yaitu tersedianya air tawar di sumur-sumur yang digali penduduk. Jaringan listrik dari kabel bawah laut pun diterima dengan bagus di pulau ini.

Untuk memberi arah perekonomian, selain wisata, Untungjawa ingin berbenah menjadi kampung nelayan. Beberapa fasilitas seperti dermaga dan restoran pujasera dibangun di dermaga pada tahun 2002. Dermaga dengan balok-balok plastik terapung dan jembatan yang kokoh berusaha mewujudkan impian ini.