Keliling Indonesia Melalui Film

Ada Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak dan Sumba, pengalamanku dengan film Yowis Ben dan Jawa, serta pengalamanku dengan film Sekala Niskala (The Seen And Unseen) dan Bali.

Di dalam film ada rangkaian cerita yang diceritakan secara visual. Saat menonton film kita seperti masuk ke dalam dunia si tokoh dan menikmati latar belakang waktu dan tempat dari cerita tokoh tersebut. Kadang kita menggunakan film untuk jalan-jalan secara imajinatif atau sebagai referensi jalan-jalan, misal kita ingin mengendarai kuda di Sumba karena ada adegan di Pendekar Tongkat Emas dengan kuda dan latar belakang bukit telletubies yang indah atau kita ingin goler-goler di padang pasir Bromo setelah nonton Pasir Berbisik. Aneh ya,,, Hehehe.

Di tahun 2017 dan 2018 ini ada film-film tak biasa, khususnya film Indonesia yang mampu membawa kita jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia, ya anggap saja ini adalah pemanasan sebelum benar-benar jalan-jalan keliling Indonesia. Film-film ini kita pilih karena masing-masing film ini menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa percakapan sepanjang film.


Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak
Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak mempunyai latar tempat di Sumba. Meskipun beberapa adegan di film ini bisa dikategorikan menjadi sadis dan ngeri (bayangin ada adegan menggal kepala pake golok dan bawa-bawa kepala orang sambil naik angkutan umum) tapi film ini termasuk salah satu film yang indah dalam sudut pandangku. Salah satu keindahan dalam film ini karena Sumba!

Meskipun kita belum pernah jalan-jalan di Sumba, namun kita sudah sangat familiar dengan visualisasi alam Sumba. kita berkali-kali melihat Sumba melalui gambar, foto, post di instagram, dan film. Semua visualisasi tentang Sumba sangat indah dan photogenic. Selain alam Sumba yang terekam indah di film ini, penggunaan kain tradisional Sumba juga membawa suasana Sumba dengan sangat kental. Kain dan alam Sumba ini sungguh membuat kita mupeng pengen segera jalan-jalan ke Sumba.

Selain secara visual Sumba ini sangat indah, suara tentang Sumba juga terdengar indah di telingkita. Meskipun di film Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak tidak sepenuhnya menggunakan bahasa daerah Sumba, namun logat Indonesia Timur khas Sumba terdengar sepanjang film. kita paling suka bagian percakapan antara Marlina dan Novi, mendengar mereka bercakap-cakap seakan mendengar percakapan dari teman lama yang berasal dari Indonesia Timur saat sedang jalan-jalan di Sumba.


Yowis Ben
Pertama denger ada film karya youtuber Bayu Skak yang postingan videonya di blog bikin ngakak udah kebayang kalo film Yowis Ben ini bakalan bikin rahang pegel sepanjang nonton. kita pas nonton Yowis Ben ini juga pas lagi capek berat akibat baru pulang dari luar kota dan cuma tidur ala kadarnya malam sebelumnya. Biasanya kalo nonton film-film biasa wae dalam kondisi fisik seperti ini kita bakalan ketiduran di tengah cerita dan bangun lagi ketika ceritanya sudah habis. Meskipun demikian, nonton Yowis Ben nggak bikin ngantuk. Mungkin gara-gara ngakak nggak habis-habis, jadi secara nggak langsung matanya melek. Dan karena film ini nggak bikin mikir sama sekali jadi ya enjoy aja nontonnya, ngalir dan menikmati.

Satu hal lagi yang bikin takjub, dalam film ini selain menjadi penulis naskah, si Bayu Skak-nya sendiri juga jadi tokoh utamanya. Well di dunia perfilman Indonesia yang selalu menampilkan wajah-wajah ciamik yang menarik, bentuk muka macam Bayu Skak bisa di zoom untuk tampil di layar sedemikian besarnya di bioskop ini sesuatu yang istimewa.

Kalau kamu pernah lihat video-video Youtube Bayu Skak, maka kamu sudah terbiasa dengan bahasa Jawa medok Suroboyonan khas Bayu Skak, yang kemudian dihadirkan sepanjang film Yowis Ben. Iya,,, sepanjang film Yowis semua pembicaraan terjadi dalam bahasa Jawa. Bahkan ungkapan khas Jawa Timuran macam jancuk, koen, cangkemmu dengan lantang diucapkan tanpa ada sensor suara. kita sih suka ya.

Rasanya nonton Yowis Ben yang berlatar tempat di Malang seperti main ke rumah teman lama di Malang, ikut dalam kehidupan sehari-hari mereka, dan diajak nongkrong layaknya anak lokal. Latar tempat rumah Bayu Skak di Kampung Pelangi Jodipan yang penuh warna juga membawkita seakan jalan-jalan di Malang, Jawa. Tapi tetep sekali lagi yang membuat film ini istimewa adalah percapakan bahasa Jawa sepanjang cerita dan tokoh utama si Bayu Skak yang mukanya jauh dari ganteng khas pemeran-pemeran utama film-film Indonesia pada umumnya macam Reza Rahardian, Vino G. Bastian, atau Nicholas Saputra.
*sori yo Mas Bayu, tapi ancen e ngono kuwi, kita mung nulisno opini.


Sekala Niskala
Sekala Niskala berkisah tentang proses menuju kehilangan dan mengikhlaskan. Ceritanya ada sepasang kembar Tantra dan Tantri. Tantra memiliki benjolan di kepala yang sudah memengaruhi semua sarafnya dan harus dirawat di RS selama berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Kondisi Tantra tidak cenderung membaik malah cenderung stagnan atau justru memburuk. Tantri, kakak kembarnya merasa kehilangan. Tantri kehilangan adik kembarnya karena tidak dapat bermain bersama lagi.

Adegan awal Sekala Niskala adalah adegan saat Tantri membawa anjing mereka secara diam-diam dengan memasukkannya ke dalam tas ke RS dan membawanya pada Tantra. Disini budaya Bali sudah kental terasa. kita teringat setiap jalan-jalan di Bali kita selalu bertemu dengan anjing-anjing khas Bali, khususnya saat kita tinggal di rumah orang lokal Bali. Rata-rata semua orang Bali pasti punya anjing, minimal anjing lokal di rumah mereka.

Dalam Sekala Niskala semua percakapan pun menggunakan Bahasa Bali. Mendengar Bahasa Bali sepanjang film seakan membawkita terbang ke Bali. Selain itu Sekala Niskala juga kental dengan pertunjukan budaya Bali dalam tiap adegan film. Ada tarian yang menunjukkan pergolakan batik Tantri untuk melawan penyakit Tantra. Ada musik tradisional khas Bali yang dimainkan melalui sitar oleh Tantra. Ada pula adegan mandi di sungai dengan aliran air yang bersih oleh ibu dan Tantri. Semuanya indah dan kental dengan budaya Bali. Menonton film ini seakan kita sedang jalan-jalan di Bali dan tinggal di rumah seniman Bali dengan sawah di sekeliling rumah dan mengamati kehidupan sehari-hari mereka di Bali.