Safari ke Situs Megalitik Peninggalan Suku Tutari

Kekayaan alam Papua, khususnya Kabupaten Jayapura begitu melimpah. Aksesnya pun tidak membutuhkan waktu lama. Salah satu yang kerap menjadi tujuan safari adalah Situs Megalitik Tutari, di Bukit Tutari, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Dari Bandara Sentani, jika kita hendak mengitari Danau Sentani khususnya spot wisata Bukit Teletubbies, maka perbukitan lokasi di mana situs ini berada hanya berseberangan saja, tepat di kaki Pegunungan Cycloop.

Perjalanan menanjak menuju situs sekitar dua kilometer dengan ketinggian 150-200 mdpl. Memasuki lokasi situs, sudah ada anak tangga yang memudahkan pengunjung. Situs ini sering dikunjungi anak-anak sekolah dan mahasiswa untuk belajar mengenal sejarah Tutari. Selain itu, para periset baik dari Papua, luar daerah, bahkan luar negeri, sering berkunjung ke sini. Dari puncak bukit, pemandangan Danau Sentani tak kalah indahnya, pun Pegunungan Cycloop yang menjulang tinggi.


Sejarah Situs Tutari
Pada masa megalitik wilayah Doyo Lama didiami Suku Tutari. Suku tersebut tak tersisa akibat perang suku, namun keberadaan Suku Tutari masih dapat kita saksikan melalui bukti peninggalannya, yang berupa lukisan-lukisan pahat pada bongkahan batu besar, yang terhampar di atas Bukit Tutari.

Legenda yang dipercayai masyarakat sekitar, Suku Tutari tinggal di sini sekitar 600 tahun lalu, di perkampungan yang bernama Tutari Yoku Tamaiyoku. Masyarakat Doyo Lama percaya Bukit Tutari merupakan tempat keramat yang dihuni makhluk-makhluk gaib. Namun dalam legenda ini tidak menceritakan tentang lukisan pada batu-batu yang ada, karena menurut orang Doyo, lukisan-lukisan ini telah ada sebelum nenek moyang mereka tinggal di kawasan ini.

Masyarakat Doyo yang tinggal di kawasan Situs Tutari sekarang ini, bukanlah keturunan suku Tutari. Nenek moyang mereka semula tinggal di Pulau Yonoqom/Yonahang (Kwadeware) di Danau Sentani.

Pada waktu lampau secara tiba-tiba mereka menyerang dan masyarakat Suku Tutari habis terbunuh. Setelah itu mereka pindah dan bermukim di Tanjung Warako, kemudian berpindah lagi ke Ayauge di utara, dan akhirnya mereka bermukim di tepi Danau Sentani, yaitu di kaki Bukit Tutari yang dipimpin oleh ondoafi Uii Marweri.


Objek Cagar Budaya
Dari data periset di Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, di kawasan Bukit Tutari terdapat sejumlah batu tegak, deretan batu serta bongkah-bongkah batu berlukis dengan berbagai macam motif seperti manusia, hewan, flora, dan geometris. Diperkirakan situs ini sudah berusia 1500 tahun lalu.

Situs Megalitik Tutari telah dibagi menjadi enam sektor yang terdiri dari bagian objek lukisan-lukisan, tempat berdirinya batu berjajar dan paling atas menhir bagian puncak, tempat sakral di mana ada 110 menhir yang masih tetap berdiri.

Pada permukaan batu-batu tergores lukisan benda/makhluk dari konteks Sentani dalam gurat-guratan putih: gelang, “alat bayar” setempat; yoniki, motif hias setempat; ikan dankura-kura, fauna tangkapan endemik danau.

Empat batu besar berdiri berdekatan, berbentuk seperti memiliki kepala, leher, dan badan. Dijuluki sebagai batu ondoafi, keempatnya mewakili empat suku di Doyo Lama: Ebe, Pangkatana, Wali, dan Yapo. Batu-batu itu tampak seperti manusia yang sedang menatap ke Kampung Doyo Lama.

Motif lukisan manusia pada Situs Megalitik Tutari, tampak berdiri dan penggambarannya terdiri dari bagian kepala tanpa wajah, ada yang kelihatan leher dan ada yang tidak, dua tangan di samping posisi direntang dan tertekuk ke atas, serta ada yang memiliki telapak dan jari, bagian badan berbentuk persegi tiga hingga menyudut ke pinggang, dan ada yang digambar hingga bagian kaki dengan posisi terbuka.

Sementara motif-motif flora yang ditemukan pada lukisan Tutari, berbentuk kuntum bunga dengan putik lonjong dan kelopak merekah serta bertangkai. Motif jenis fauna/binatang yang digambarkan pada batu-batu besar, terdiri dari beragam bentuk ikan yang digambarkan tunggal maupun ganda. Demikian juga dengan binatang lain, kura-kura yang digambar tunggal dan kelompok, kadal atau biawak yang digambar tunggal maupun dengan binatang lainnya. Juga ular, tikus tanah, katak dan burung. Serta masih banyak motif lainnya berupa lukisan benda budaya dan geometris.

Sebagian situs ada yang dibangun pelindung beratap. Hal itu untuk melindunginya dari pergantian cuaca untuk menghindari pelapukan motif. Beberapa situs lainnya, masih perlu dilakukan upaya konservasi dengan pembangunan pagar pembatas dan papan informasi.

Foto : Kristianto Galuwo