Taman Nasional Tanjung Puting, Rumah Aman Orangutan

Melihat dan berinteraksi dengan orangutan di habitat alami. Menyusuri sungai di tengah rimbun hutan tropis Kalimantan, dengan klotok bintang lima.

Taman Nasional Tanjung Puting, merupakan cagar alam dan suaka margasatwa tempat penangkaran Orangutan terbesar di dunia dengan populasi diperkirakan 30.000 sampai 40.000 orangutan. Taman Nasional Tanjung Puting juga merupakan cagar biosfer yang ditunjuk pada tahun 1977 dengan area inti Taman Nasional Tanjung Puting seluas 415.040 ha yang ditetapkan pada tahun 1982.

Awalnya, cagar alam ini ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937 dengan nama Suaka Marga Satwa Sampit. Kemudian pada sekitar tahun 70-an diubah namanya menjadi Suaka Margasatwa Tanjung Puting.


Habitat Alami 8 Primata
Ditetapkannya wilayah ini menjadi suaka margasatwa adalah untuk melindungi habitat orangutan yang terancam punah. Ancaman terbesar yang dapat merusak ekosistem dan habitat salah satu primata langka ini diantaranya penebangan hutan yang dilakukan secara besar - besaran dan ekspoitasi hutan illegal.

Berbeda dengan konservasi orangutan lainnya, di TN Tanjung Puting, kita dapat melihat habitat alami Orangutan secara langsung dan melihat kehidupan mereka di alam liar. Secara geografis, taman nasional ini terletak antara 2°35'-3°20' LS dan 111°50'-112°15' BT meliputi wilayah Kecamatan Kumai di Kotawaringin Barat dan kecamatan-kecamatan Hanau serta Seruyan Hilir di Kabupaten Seruyan.

Kawasan suaka margasatwa yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Tanjung Puting, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan ini terdiri dari beberapa tipe ekosistem, yaitu hutan tropika dataran rendah, hutan tanah kering (hutan kerangas), hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau atau mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder.

Di sepanjang sungai Sekonyer, menyusuri dengan perahu klotok, kita akan disuguhi pemandangan hutan tropis yang teduh. Jika beruntung, kita akan melihat pemandangan monyet-monyet yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Hutan ini merupakan rumah bagi delapan jenis primata, termasuk monyet yang memiliki hidung panjang (bekantan) yang dikenal masyarakat sekitar dengan sebutan monyet Belanda.

Namun ingat, saat menyusuri sungai Sekonyer menuju tempat objek wisata di TN Tanjung Puting, kita harus waspada dengan kehadiran buaya di sepanjang sungai.


Perahu Klotok Bintang Lima
Karena sebagian besar pengunjung Taman Nasional Tanjung Puting adalah wisatawan asing, membuat pelayanan masyarakat di kawasan ini semakin baik. Bahkan, pelayanan di perahu Klotok yang digunakan untuk berkeliling taman nasional ini tidak kalah dengan pelayanan hotel berbintang. 

Selain guide dan kapten kapal yang ramah, masakan yang disajikan di kapal ini begitu lezat dan bervariasi. Selain makan 3 kali sehari, kita juga masih disuguhi berbagai cemilan atau kudapan sedap saat brunch dan sore hari. Belum lagi ditambah dengan aneka buah dan minuman kaleng dingin yang bisa diambil setiap saat. Begitupun jika malam tiba, perahu klotok akan disulap menjadi ruang istirahat yang dilengkapi dengan kelambu di masing-masing kasur.
 
Sebelum menikmati perjalanan di kawasan hutan daerah tropis Tanjung Puting, ada beberapa persiapan yang sebaiknya dibawa, diantaranya lotion anti nyamuk, sepatu gunung yang kedap air, juga pakaian santai yang nyaman. Oh ya, karena kita lebih banyak menghabiskan waktu di kapal, ada baiknya membawa buku atau permainan seru untuk membunuh waktu.