Pesona Tersembunyi dari Pulau Pahawang, Lampung

Pulau Kelagian menjelang. Air laut yang jernih dan pasir putih bersih menyambut kami di dermaganya. Siapa yang mengira perairan Lampung ini menyimpan cerita dan legenda Melayu.

Pulau Kelagian menjelang. Air laut yang jernih dan pasir putih bersih menyambut kami di dermaganya. Siapa yang mengira perairan Lampung ini menyimpan cerita dan legenda Melayu. Kami sedang menuju ke legenda itu. Dulunya asal nama Pahawang dari seorang kelana dari Cina datang ke pulau ini dan menetap di sana. Namanya Hawang. Lalu, si Hawang ini punya anak perempuan yang kerap dipanggil Pok Hawang. Akhirnya terpakailah nama Pok Hawang yang melebur menjadi Pahawang. Pahawang sendiri dikelilingi oleh beberapa pulau yang mulai dihuni oleh orang dari Kalianda, Lampung dan Banten.

Kelagian yang dimaksud adalah Pulau Kelagian Kecil yang tak berpenghuni. Pulau ini tampaknya memang dikhususkan untuk para pelancong yang hanya menetap beberapa malam. Kami memilih menginap di Pulau Kelagian ini. Ada beberapa pondok penginapan yang tersedia di sela-sela tanaman bakau. Saat aku ke sana, penginapan hanya beberapa dan terdiri dari bangunan kayu menyerupai rumah panggung. Kamar kecil dengan kamar mandi seadanya menanti untuk ditempati. Listrik pun ala kadarnya, hanya menyala saat malam hari. Pasokan listrik dan air bersih memang terbatas karena belum ada perhatian untuk menghidupkan pulau ini sebagai sebuah tourism. Mungkin saat tulisan ini ditayangkan, Pulau Kelagian sudah lebih maju, ya.

Sebenarnya masih ada alternatif lain untuk penginapan, yaitu di Pulau Pahawang Besar. Sebagian besar penduduk Pahawang sudah menyediakan homestay untuk para pelancong. Jika ingin tinggal dan berbau dengan masyarakat setempat, kamu dapat memilih homestay di Pahawang Besar. Nah, ada juga resort yang harganya lebih tinggi dan biasanya dikelola oleh warga negara asing. Ada satu resort di Pahawang Kecil milik orang Prancis. Sementara itu, di Pahawang Besar ada sebuah Vila Kudus yang juga milik orang asing. Pahawang Kecil yang notabene lebih sepi, tentu akan jadi daya tarik tersendiri bagi resort ini untuk menarik pengunjung. Biasanya yang menetap di resort ini ya kaum bule juga.

Usai makan siang, aku bersiap untuk mengarungi perairan Pulau Pahawang dan sekitarnya. Kami hanya sempat snorkeling di dua tempat karena sudah terlalu sore, salah satunya di perairan Pulau Kelagian. Aku sungguh bersemangat karena aku ketemu laut lagi, ketemu terumbu karang lagi, dan ketemu ikan-ikan kecil yang memperkaya kehidupan laut. Meski Pulau Pahawang dan Kelagian ini tak terlalu  jauh ditempuh dari Jakarta, pesona bawah lautnya termasuk juara. Karena berdekatan dengan Samudera Indonesia, tentu perairan di ujung Lampung ini masih terbilang bersih.

Setelah bermain dengan karang dan ikan di perairan Kelagian, kami berpindah ke Tanjung Putus untuk snorkeling. Karang di sini juga masih tergolong hardcoral. Penampakan ikan nemo juga banyak. Tumbuhan laut warna-warni di sekitar karang menjadikan bawah laut ini berwarna. Tanjung Putus dinamakan demikian karena dulu pulau ini tersambung dengan Pulau Sumatera. Namun, karena pergerakan lempeng bumi serta kondisi laut yang berubah-ubah, pulau ini terpisah dan jadilah Tanjung Putus.

Kami mengapung selama beberapa menit dan bersuka ria di dalam air. Di perairan Pulau Pahawang ada beberapa titik snorkeling yang bisa dinikmati. Katanya, ada penangkaran terumbu karang juga karena banyak terumbu yang rusak akibat pemanasan global. Ada penangkaran ikan nemo juga karena ikan nemo sendiri jadi favorit para pelancong dan sedang menuju kepunahan akibat pengrusakan laut. Sedih ya kalau dipikir-pikir. Pahawang semakin ramai, tapi kondisi alamnya pun tidak bertambah baik. Mudah-mudahan, dengan bertambahnya pengunjung di Pulau Kelagian dan Pahawang, justru semakin menambah kepekaan kita terhadap keasrian pulau dan perairannya, ya.

Sore hari menjelang matahari terbenam, perahu merapat di Pulau Pahawang Kecil. Setelah melintasi Pulau Pahawang Besar yang merupakan sebuah perkampungan, kami bertemu pasir timbul yang menghubungkan satu bukit kecil ke Pulau Pahawang. Untungnya air laut belum pasang sehingga kami bisa berjalan-jalan di atas pasir timbul yang masih rapi dan bersih ini. Ya, bersih. Air lautnya pun tak kalah jernih. Gradasi dari kebeningan tosca hingga biru tertambat hingga cakrawala. Pasir ini jadi penghubung antara Pahawang Besar yang dihuni oleh 6 dusun dan Pahawang Kecil yang merupakan pulau yang dipenuhi tanaman bakau.

Pasir timbul itu sungguh panjang dan saat pasang akan rata dengan air. Bentuknya pun setiap hari berbeda. Yang timbul memanjang, ada pula yang terbelah di bagian tengah.

Hari kedua di Pulau Kelagian, aku bangun pagi-pagi sekali. Kami dijamu oleh fajar yang perlahan meninggi di dermaga. Bias oranye menularkan kehangatan. Kami menikmati fajar di Pulau Kelagian dengan syahdu hingga sarapan dihidangkan.

Sebelum pulang, kami mampir ke sisi lain dari Pulau Pahawang Besar. Di sana terdapat bangunan berupa pendopo yang kental dengan unsur Jawa. Bangunan itu milik orang asing dan disewakan sebagai penginapan. Harganya tentu sepadan dengan nuansa resort yang mengambil satu sisi pantai Pahawang Besar. Namun, saat itu resort ini sepi bahkan cenderung tak terurus. Nuansa bangunannya jadi terkesan suram. Apakah saat itu sedang kosong, renovasi, atau entahlah. Yang jelas, vila ini cukup terkenal bagi yang ingin ke Pahawang.

Kami bermain-main di pesisir Pahawang Besar yang sepi pagi itu. Pasirnya bersih dan dirimbuni berbagai jenis pohon. Pantai jadi terlihat rindang. Berada di pantai resort ini bagaikan berada di pulau tersembunyi karena suasanya yang hening. Kami tersuruk oleh dedaunan. Keteduhanlah yang membuatku tak ingin pulang.