Pendakian Gunung Anak Krakatau

Gunung ini adalah bagian dari sejarah dunia, yang memecah belah pulau, memberi renggang pada lempeng bumi, dan mengubah suhu global. Tidak salah jika kawasan Krakatoa dijadikan World Site Heritage, tidak sekadar cagar alam nasional biasa.

Kapal merapat di Pulau Anak Krakatau. Pendakian ke atas tentu tidak akan terlalu panjang karena ketinggiannya hanya berkisar 450 meter. Kita menapaki pasir pantai yang hitam sisa erupsi yang lumayan rutin terjadi di anak gunung yang aktif itu. Kata Bapak yang berjaga di pusat konservasi cagar alam, Gunung Anak Krakatau baru saja 'batuk-batuk' beberapa hari sebelum kita tiba di sana.

Sisa-sisa longsoran lahar bisa terlihat di atas sana dan masih berasap di beberapa bagian. Sebelum menanjak tim konservasi cagar alam memberi instruksi tentang rute yang dilalui, hal yang dapat dilkitakan dan tidak boleh dilkitakan, serta durasi perjalanan. Kita hanya diberi waktu 2 jam untuk menanjak dan turun kembali.

Maka, berbondong-bondonglah semua peserta ‘Tur Krakatau’ menembus sekelebat hutan sebelum menemukan gundukan pasir hitam yang menjulang di depan. Ya, inilah kawasan Gunung Anak Krakatau.


Tanjakan Tanpa Bonus
Lereng Gunung Anak Krakatau sungguh terjal dan ditutupi pasir. Ini yang namanya hiking tanpa bonus (jalanan datar). Kita harus berjuang terus menanjak hingga teras gunung. kita hanya diizinkan mendaki sampai 'teras' gunung Anak Krakatau. Mungkin dulu ini puncaknya. Tapi karena aktivitas vulkaniknya, gundukan pasir sisa erupsi menebal.Masih ada beberapa meter lagi ke puncak, tapi memang bukan untuk ditapaki manusia. Sisa erupsi masih segar dan berasap. Gundukan longsoran pasir meski mulai mengeras, tapi berbahaya untuk diinjak. Bisa-bisa longsor hingga permukaan laut.

Selagi berjalan menapaki lereng, ada pemandangan lain yang tidak kalah hebat. Menjulang puncak gunung Anak Krakatau, di seberang lereng gunung ini, kita melihat segitiga lain yang terpisah oleh lautan. Apakah segitiga itu termasuk gunung juga?

Ya, namanya Gunung Rakata, bagian dari puncak Krakatau purba. Di sekelilingnya, lautan luas membentang yang merupakan perpaduan Selat Sunda dan Samudera Hindia. Tak jauh di sebelahnya, ada sebuah pulau lagi yang tampak memanjang yang juga merupakan bagian dari Krakatau Purba. Pulau itu disebut Pulau Panjang. Ada satu lagi sebenarnya tapi berada di balik Gunung Anak Krakatau yang sedang kudaki ini. Namanya Pulau Sertung.

Tiga pulau ini berkaitan erat dengan Gunung Anak Krakatau. Pada masa prasejarah, artinya belum ada umat manusia yang menuliskan kisah tentang Krakatu purba, Krakatau punya satu puncak berbentuk kerucut yang disebut Krakatau Besar. Sebuah letusan besar terjadi yang menenggelamkan hingga 2/3 bagian Krakatau. Krakatau itu menyisakan 3 pulau, yaitu Rakata, Panjang dan Sertung. Dari sisa lava di kaldera Pulau Rakata, muncullah dua pulau vulkanik yang perlahan tapi pasti meninggi, namanya Pulau Danan dan Perbuatan. Nah, dari 3 puncak yang aktif, Rakata, Danan, dan Perbuatan, kamu bisa menebak, kan, mana gunung yang meletus kedua kali sekitar tahun 1883 dan menjadi cikal bakal Gunung Anak Krakatau? Lihat saja namanya, kamu akan tahu siapa yang berbuat.

Yes, puncak gunung Perbuatan meletus 2 abad silam yang membuat Pulau Danan ikut hancur dan mengikis hampir separuh badan Gunung Rakata dan Sertung. Kamu bisa melihat skema letusannya di pusat konservasi cagar alam Krakatau. Letusan itu mengakibatkan terdapatnya celah besar seperti cawan di antara 3 pulau, Rakata, Panjang, dan Sertung. Seakan tak terpisahkan, ya. Dimulai dari 3 pulau bersaudara hasil letusan Krakatau Purba, lalu muncul anak pulau yang meletus lagi dan membuat 3 pulau tua itu kembali berhadapan. Mereka seakan berjaga, apakah ada lagi sisa lava yang mencuat di tengah-tengah mereka. Dan, benar.

Kemunculan Pulau Anak Krakatau tak serta merta instan. Kegiatan vulkanik di dasar laut dari nadi Krakatau Purba rupanya tak pernah padam, khususnya terperhatikan dari tahun 1927-1929. Sejak saat itu mencuat sebuah kawah di permukaan laut hasil erupsi, persis di tengah 3 pulau vulkanik tua. Kawah itu terus meninggi dari tahun ke tahun yang kini dapat kita lihat dan kita daki, Gunung Anak Krakatau.

Setiap tahun, ketinggian anak gunung ini bertambah sekitar 4 cm di atas permukaan laut. Dipastikan ketinggian Gunung Anak Krakatau akan menjulang lebih tinggi dalam tahun-tahun ke depan karena erupsi masih terjadi secara rutin. Ini bagian yang sedikit membuatku merinding. Jika dulu sekali disebutkan bahwa ketinggian Gunung Krakatau itu 800 mdpl lalu meletus, butuh berapa tahun lagi kita bersiap dengan letusan berikutnya dari si anak gunung? Hal itu sudah diprediksi oleh bagian vulkanologi, mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau terbilang aktif.

Gunung ini adalah bagian dari sejarah dunia, yang memecah belah pulau, memberi renggang pada lempeng bumi, dan mengubah suhu global. Tidak salah jika kawasan Krakatoa dijadikan World Site Heritage, tidak sekadar cagar alam nasional biasa. Pendakian ini juga bagian dari pendakian historical. Alam banyak memberikan bukti-bukti kemegahan mereka. Tinggal kita yang harus menghargai keberadaan alam itu sendiri.