Torosiaje, Kisah Kampung di Atas Laut

“Desa ini benar-benar berada di tengah laut, jauh dari pantai! Keterpencilan dan keanggunan desa di tengah laut itu membuatku sangat takjub. Torosiaje tampak bagaikan dunia tersendiri yang tertutup.”

Torosiaje adalah desa orang Bajo di Kecamatan Popayato, Kab. Pohuwatu, Gorontalo. Gerimis baru saja mereda membuat udara pesisir yang lembap setia menyergap. Delapan jam merayapi jalan Trans Sulawesi sejauh  270 km dari Kota Gorontalo ini sungguh melelahkan. Begitu turun dari mobil, beberapa orang langsung menghampiri, menawarkan ojek perahu. “Kampungnya di laut sana, 600 meter dari pantai”.

Menuju Torosiaje malam hari ibarat seekor laron menuju kerlip-kerlip cahaya yang dikerubung hitam malam. Dengan leppa (sejenis perahu kecil khas orang Bajo) yang hanya muat untuk 8 orang. Senter Darwis lah satu-satunya penerangan guna memandu perahu. Limabelas menit dalam remang perairan, leppa memasuki perkampungan. Woow.. leppa kita melintasi deretan rumah-rumah panggung yang bertengger 2-3 meter di atas permukaan laut.

Kampung Torosiaje berbentuk seperti “U” yang melebar terbuka ke arah laut Teluk Tomini. Perahu yang berasal dari daratan Sulawesi dapat dianggap datang dari pintu belakang. Orang Bajo selalu menganggap lautan luas adalah beranda utama kehidupannya. Untuk menuju ‘alun-alun’ di tengah Torosiaje, setiap perahu menyusur gang di antara rumah-rumah hingga melintas di bawah jembatan berhias papan kecil bertuliskan “Welcome to Bajo”.

Setiap hari warga Torosiaje harus melaut agar hidup terus berlanjut. Apalagi saat itu sedang musim melimpah ikan. Di Torosiaje, semua warga akan menyatakan diri sebagai nelayan walaupun ada juga yang bekerja sebagai pedagang, pengrajin kayu, ojek perahu, dan lain-lain. Sulit untuk memisahkan orang Bajo dengan laut. “Sama dapu ma di laok. Laut milik Suku Bajo.” Begitulah ungkapan yang pasti tertancap di jiwa tiap orang Bajo.

Torosiaje, Tanjung dan Haji
Bagi orang Bajo, sebuah kampung di atas laut merupakan rangkaian perjalanan kehidupan mereka di laut. Bajo dikenal sebagai suku pengembara laut yang jangkauan pelayarannya meliputi seluruh perairan Nusantara. Dulunya suku Bajo selalu tinggal nomaden, berpindah-pindah tempat secara berkelompok di atas soppe, perahu sepanjang 8-10 meter yang dilengkapi atap. Dari pengembaraan suku yang beragama Islam ini, banyak tempat di Indonesia pun memiliki nama, seperti Labuhanbajau di Simeuleu Aceh, Labuhanbajo di Sulawesi Tengah, Labuhan Bajo di Flores, Pulau Bajo-e di Watampone Sulawesi Selatan, dan lain-lain.

Torosiaje merupakan contoh dari proses  penetapan dan pendaratan orang Bajo menjadi sebuah kampung. Masih ‘beruntung’ Torosiaje berdiri di atas laut, lepas dari daratan. Di banyak kampung Bajo lain, masyarakat sudah tinggal di pantai mendirikan rumah panggung bahkan hingga jauh di daratan membangun rumah permanen.

Torosiaje mulai ada sejak tahun 1901 ketika beberapa soppe memutuskan menetap dan mendirikan perkampungan. Nama Torosiaje terdiri dari toro yang berarti tanjung dan si ajeyang merupakan sebutan bagi seorang yang dipanggil haji.  Konon, ada seorang Haji yang tinggal di sebuah pulau yang mana sekarang berdiri kampung Torosiaje dan orang Bajo singgah untuk menjual ikan dan kulit penyu. Sekarang, pulau karang kecil tersebut telah tenggelam.

Mengakrabi masa kini Torosiaje berarti menjumpai  kampung yang telah tertata rapi sebagai desa wisata. Gang kayu panggung beratap seng biru dibangun melingkari desa yang bernama administratif Desa Torosiaje Laut.  Fasilitas listrik dan air bersih telah terpasang walau belum optimal untuk menghidupi sekitar 1400 jiwa. Warung makan, toko kelontong, toko alat seluler, dan penginapan tersedia di sudut-sudut kampung. Fasilitas publik seperti sekolah, masjid, puskesmas, dan gedung pertemuan telah cukup memadai.