Asa dan Nostalgia di Roemah Martha Tilaar

Nostalgia kadang mewujud pada sebuah rumah kenangan, semacam museum. Namun, di Roemah Martha Tilaar (RMT) yang berasitektur Indis ini, menjadi pintu pemberdayaan masa depan.

Nostalgia hanya beku jika mengacu masa lalu. Ia sekedar menjenguk ragam romantismedan kadang jika dipandang dari era sekarang, ia adalah bahan asyik untuk perenungan lantas dilupakan karena ia telah tertinggal di masa silam. Ia pun kadang mewujud manis pada  sebuah rumah kenangan, rumah yang dikemas apik semacam museum. Namun, di Roemah Martha Tilaar (RMT), di rumah berasitektur Indis ini, nostalgia menjadi 8pintu pemberdayaan masa depan.

Semua jelas tahu siapa si empunya Roemah Martha Tilaar. Siapa yang tidak kenal dengan maestro kecantikan Indonesia: DR (HC) Martha Tilaar? Tak cuma bangsa Indonesia yang kagum pada beliau, tapi seluruh dunia hormat pada tokoh yang berada di balik kesuksesan perusahaan masyhur di bidang industri kecantikan dan pengobatan tradisional Indonesia yang mendunia. Desember 2014, Martha Tilaar pulang kampung ke tempat kelahirannya: Gombong, Kebumen dan meresmikan Roemah Martha Tilaar.

Wahana Pengembangan Masyarakat Gombong
Sejak usia 10 tahun, perempuan yang bernama asli Martha Handana telah diboyong ke Jakarta untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik di ibukota. Tapi, sepuluh tahun hidup di Gombong inilah yang menempa dasar menjadi sosok yang teguh berwirausaha, tetap membumi, mudah bergaul lintas bangsa dan terinspirasi untuk bergiat di bidang kecantikan dan obat tradisional. Martha Tilaar ibaratnya berutang budi untuk membangun kota kelahirannya yang lama tak dikunjunginya.

“Dulu kalau pohon mangga di depan rumahnya berbuah, Bu Martha suka panjat pohon buat dipetik buahnya.  Lalu, jual di depan rumah di pinggir jalan. Bu Martha tak pernah malu jualan mangga begitu.” ungkap Tony, pemandu wisata di RMT sambil menunjuk pohon mangga tua di halaman depan.

Martha Tilaar tentu membuka Roemah Martha Tilaar tidak sekedar untuk mengenang sejarah masa silamnya yang menarik. Tak sekedar menjadikannya sebagai museum.  Tahu kampung halamannya Kebumen sesungguhnya punya potensi besar tapi kurang dikembangkan maksimal, Roemah Martha Tilaar didesain sebagai wahana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Kebumen.

Roemah Martha Tilaar mengambil inspirasi dari 4 Pilar Martha Tilaar Group yaitu : Beauty Education, Beauty Green, Beauty Culture dan Empowering Woman. RMT menyelenggarakan beragam kegiatan untuk mencakup aspek-aspek pendidikan, pelestarian alam, kepedulian budaya dan pemberdayaan perempuan. Harapannya, RMT bisa dimanfaatkan masyarakat Kebumen untuk berkolaborasi dalam peningkatan kesadaran lingkungan, budaya dan identitas lokal Kebumen.

Sejak 1920
Hadir di Roemah Martha Tilaar adalah sebuah ketakjuban pada bangunan heritage yang terkelola dengan baik. Di bangunan depan rumah terpampang menempel di dinding tulisan “1920”. Angka ini semacam ingin berkisah pada bahwa bangunan ini berdiri tahun 1920. Adalah keluarga Liem Siaw Lan yang mendirikan rumah megah ini yang berlokasi di Jalan Sempor Lama nomor 28, di kawasan Pecinan kota Gombong.

Pada masanya, Keluarga Liem adalah keluarga Tionghoa kaya di Gombong. Salah satu usahanya adalah peternakan yang memasok daging dan susu ke tangsi Belanda Fort Generaal Cochius yang kini dikenal sebagai Benteng Van der Wijck. Kota Gombong memang dari abad 18 sampai awal abad 20 dikenal sebagai kota kolonial yang menjadi pusat perdagangan dan militer di Jawa bagian selatan. Hadirlah beragam etnis pula yang mendiami Gombong dan menjadikan kota ini cukup berkembang.

Meski berada di kota kecil Gombong, pengelolaan Roemah Martha Tilaar atau House of Martha Tilaar begitu profesional.  Roemah Martha Tilaar ini dikelola oleh Yayasan Warisan Budaya Gombong.

Memasuki bangunan Roemah Martha Tilaar ibarat seperti menjelajahi cita rasa beragam bangsa. Nuansa Belanda dijumpai pada bentuk bangunan yang kental dengan arsitektur Indis. Aura Tionghoa dijumpai saat masuk ke ruang  Meja Sembayang untuk para leluhur di kawasan ruang Tamu. Suasana Jawa terlihat di beberapa foto keluarga Liem yang berpakaian Jawa dan perabotan-perabotan klasik.

Di teras depan, aneka gambar bercerita tentang wajah Roemah Martha Tilaar tempo dulu, suasana Kota Gombong tempo dulu, wisata-wisata di Kebumen, kerajinan di Kebumen dan lain-lain. Di lorong Ruang Tengah, dipajang silsilah sejak buyut dari Tiongkok tinggal di Gombong dan foto-foto jadul keluarga Liem Siaw Lan.  

Roemah Martha Tilaar menempati tanah berukuran 32 x 54 meter. Terdiri dari Rumah Utama yang diapit dua paviliun di kanan-kirinya. Terdapat dua halaman di bagian depan dan belakang yang ditata sebegitu apiknya di antara pohon-pohon tua dengan taman bunga yang menawan. Rumah utama terdiri dari teras depan, ruang sembahyang, ruang tamu, satu kamar utama, tiga kamar anak dan teras belakang. Menariknya di sekeliling Rumah Utama ditanami aneka tanaman obat sebagai bukti kecintaan Martha Tilaar terhadap  jamu asli Indonesia.