Apen Beyeren, Ritual Injak Batu Panas

Ritual bernuansa magis di tengah eksotiknya kota Biak, Papua. Batu dibakar selama 4 jam, kemudian dilewati dengan kaki telanjang. Pesertanya tua, muda, laki, perempuan, bahkan anak-anak!

Di Festival Biak Munara Wampasi 2018, salah satu acara yang menjadi sorotan adalah ritual Apen Beyeren. Ritual ini adalah satu dari sekian ritual adat dalam budaya masyarakat Kabupaten Biak Numfor.  Secara bebas Apen Beyeren dapat diartikan sebagai prosesi berjalan di atas batu panas.

Asal mulanya ritual ini adalah berakar  dari tradisi Barapen. Tradisi bakar batu untuk keperluan  memasak yang dilakukan warga kampung ketika ada acara upacara adat ataupun syukuran. Dari sinilah kemudian berkembang menjadi Apen Beyeren.  Sejatinya ritual ini  khusus diselenggarakan untuk penghormatan terhadap seseorang ataupun tokoh adat. 

Ritual yang berlangsung di samping Museum Cenderawasih, di pusat kota Biak ini memakan waktu yang cukup lama, karena memang batu harus dalam keaadaan panas betul. Batu  yang digunakan adalah batu karang, yang kemudian disusun berselang-seling dengan kayu.  Dan kemudian dibakar selama kurang lebih 4 jam.

Menjelang senja, para pelaku ritual yang berasal dari kelompok Apen Beyeren Adoki dari Distrik Yendidori, memulai aksinya. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, bahkan diantaranya sudah berusia senja. Mereka mengenakan pakaian  adat, mulai membongkar susunan batu. Satu per satu, kayu bakar yang ada disingkirkan dan kemudian batu-batu diratakan.

Tidak lama tabuhan tifa bergaung mengiringi tarian Wor Beyusser yang dibawakan anak-anak Biak, menandakan dimulainya ritual Apen Beyeren.  Mereka melakukan tarian sambil bernyanyi mengitari batu panas dan kemudian duduk mengitari batu panas, yang sebagian membara merah.

Mereka melantunkan pujian-pujian kepada Tuhan. Mantra ini dinamakan Neno-neno. Ritual ini menimbulkan suasana magis memang, namun juga terasa eksotis. Sebelum melewati batu panas, kaki para pelaku ritual dioleskan semacam minyak. "Ini dibuat dari daun Sindia. Dengan mengoleskannya , telapak kaki tidak akan melepuh ketika melewati batu panas," ujar salah satu dari mereka. 

Seiring semakin cepatnya tempo tabuhan tifa dan nyanyian pujian. Satu demi satu mereka mulai melintasi batu panas. Dimulai dengan Plt Bupati Biak Numfor Herry Ario Naap, yang didaulat Alveres Yapen, Koordinator Grup Apen Beyeren sebagai simbol dimulainya ritual. Tua, muda, laki-laki dan perempuan, dan bahkan anak-anak ikut melintasi batu panas tersebut.

" Apen Beyeran merupakan kearifan budaya lokal. Tidak sembarang orang bisa melakukan ini, hati dan pikiran harus bersih," ujar Herry dalam pidatonya." Dan ini menjadi keunggulan pariwisata Biak yang tidak dimiliki oleh daerah lain," tambahnya.

Jika di cermati, Apen Beyeren tidak hanya sekedar atraksi. Namun didalamnya terkandung nilai-nilai historis dan juga sebagai sebuah bentuk keseimbangan antara manusia , alam dan nilai-nilai budaya leluhur.