Gunung Guntur, Miniatur Semeru di Tanah Pasundan

Gunung Guntur adalah sebuah gunung berapi bertipe stratovolcano yang memiliki ketinggian 2.249 mdpl. Gunung Guntur pernah menjadi gunung berapi paling aktif di pulau Jawa pada decade tahun 1800-an.

Gunung Guntur berdekatan dengan gunung-gunung lainnya yang mengelilingi kota Garut. Di sebelah selatan Gunung Guntur, ada Gunung Putri yang berhadapan dengan Gunung Cikuray dan Gunung Papandayan. Kemudian di sebelah barat ada Gunung Masigit, Gunung Parupuyan, dan gunung lainnya.

Gunung Guntur sendiri mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Di kawasan puncak Gunung Guntur terdapat kaldera yang sangat besar dan dalam yang berasal dari bekas letusan.

Karakteristik Gunung Guntur umunya berpasir sehingga tidak banyak ditumbuhi tanaman dan tampak gersang. Sebagian kawasan banyak ditumbuhi dengan ilalang dan terlihat seperti padang savana. Di puncak hanya ada beberapa tanaman cantigi yang tumbuh. Selain cantigi, pohon pinus lebih banyak tumbuh di gunung ini.

Miniatur Gunung Semeru
Bagi pecinta alam yang hobi dengan olahraga naik gunung, maka harus tahu bahwa Gunung Guntur adalah salah satu gunung favorit para pendaki di Garut. Gunung Guntur termasuk dalam Trio Garut PAGUCI, Papandayan, Guntur, dan Cikuray. Jadi, belum kenal gunung-gunung di Garut kalau belum mendaki PAGUCI.

Keindahan dari Gunung Guntur ini juga tak hanya bisa dinikmati kala pagi, siang atau sore hari, tapi juga bisa dinikmati saat malam hari. Lampu dari Kota Garut akan terlihat jelas layaknya sebuah bintang yang bercahaya di langit.

Jika di Jawa Timur ada Gunung Semeru, maka Jawa Barat memiliki Gunung Guntur yang karakteristiknya mirip dengan Gunung Semeru. Dikatakan seperti itu karena saat kita mencapai puncak maka kita akan menemui tanjakan yang penuh terisi oleh pasir, kerikil, dan bebatuan dengan ukuran yang beragam.

Tanah yang kita pijak sangat rentan untuk longsor. Jadi, kehati-hatian ekstra sangat diperlukan saat mendaki menuju puncak. Disarankan agar memakai sepatu gunung, jika memakai sandal gunung harap memakai yang kuat dan tak gampang putus.

Selain Gunungnya yang masih aktif hingga kini, Gunung Guntur ini juga tempat habitat alami para flora dan fauna. Jika beruntung, saat mendaki menuju puncak, kita akan menemui tanaman langka insektivora Kantong Semar (Genus Nephentes).

Keunikan dari Gunung Guntur ini lainnya adalah terdapatnya air terjun bernama Curug Citiis yang memiiki air yang dingin dan jernih. Di air terjun ini kita bisa mandi dan mengambil airnya untuk perbekalan kamu selama mendaki atau camping.

Pendakian Gunung Guntur
Gunung Guntur ini memiliki 7 puncak. Namun yang paling populer dan sering didaki adalah hingga puncak ke-5. Karakteristik dari tiap puncak ini berbeda-beda. Dari puncak 1 hingga 4 hampir sama, yaitu ditumbuhi oleh rerumputan yang membentuk sebuah sabana dan banyak ditumbuhi oleh tanaman pinus, cantigi dan beberapa tanaman edelweiss.

Sementara dari puncak 5 hingga 7 ditumbuhi oleh hutan tropis yang rimbun. Konon dari puncak 5 hingga 7 masih didiami oleh hewan liar seperti babi hutan, ular, harimau dan macan kumbang.

Rata-rata waktu tempuh yang diperlukan untuk mendaki hingga puncak 4 adalah 4-7 jam perjalanan. Hal itu menjadi relatif tergantung dari kondisi pendaki.