Pandai Sikek, Kampung Tenun Termasyur di Tanah Minang

Perkampungan dingin di pinggang Gunung Singgalang, di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Merupakan salah satu sentra tenun termasyhur. Industri tenun di Pandai Sikek telah hidup sejak awal 1900, menembus pasar Eropa.

Pandai Sikek bagai tak pernah lepas dari pagutan kabut yang sejuk. Di hari-hari tertentu, rombongan pendaki gunung terlihat berjalan bergerombol meniti jalur pendakian ke Gunung Singgalang.  Pandai Sikek adalah lembah-lembah yang mengoleksi persawahan dan ladang-ladang sayur. Namun, ia lebih dikenal dengan tenunnya yang masih dikerjakan secara tradisional.

Tenun rumahan di Pandai Sikek sudah ada sejak masa kolonial, terkenal sebagai salah satu industri rumahan yang mapan. Bahkan, atas prakarsa seorang wakil pemerintah Belanda di Hindia Belanda (Hoge Vertegenwoordiger van de Kroon in Nederlands-Indië), A.H.J. Lovink pada tahun 1916, pemerintah kolonial Belanda mulai memperhatikan dan memberdayakan industri tenun rumahan Pandai Sikek dan Koto Gadang, di bawah inspektur industri, L.W. van Der Meulen. Salah satu upaya pemberdayaannya adalah mencarikan pasar untuk tenun tersebut di dunia internasional.

Motif unik khas Minangkabau menjadi daya tarik yang tidak biasa, karena banyak di antara motif tersebut dapat ditemukan di ukiran rumah gadang, rumah tradisional masyarakat Minangkabau. Di Pandai Sikek hari ini, banyak ditemukan sentra-sentra tenun dan songket Pandai Sikek yang tidak hanya menawarkan tenun dan songket yang telah jadi kepada wisatawan, tetapi juga proses penenunan yang masih menggunakan peralatan tradisional. Di sini wisatawan juga diperbolehkan untuk mencoba dan merasakan kegiatan menenun dengan cara tradisional tersebut.


Haji Miskin
Sebelum menemui pusat sentra tenun tersebut, terlihat sebuah plang yang menggambarkan keberadaan sebuah situs cagar budaya, Makam Haji Miskin. Makam itu terletak tidak jauh dari jalan utama. Dari jalan utama itu menuju ke makam dihubungkan jalan setapak licin dengan tangga-tangga dari beton.

Di ujung tangga-tangga itu, masa silam menyembulkan diri: sebuah makam dari abad ke-19 kokoh berdiri. Panjang makam hampir lima meter, yang sekelilingnya dipagari pagar besi. Makam itu diteduhi sebuah bangunan bergonjong empat lambang dari arsitektur tradisional Minangkabau. Batu-batu kecil tertata apik di tengah-tengah badan makam.

Di pinggiran badan makam telah dibeton dengan rapi sekalipun belum dihaluskan. Nisan makam itu, sebuah batu pipih setinggi hampir satu meter dengan lebar tigapuluhan senti dan sebuah pokok pohon dengan diameter hampir sama tetapi memiliki tinggi dua kali itu. Tidak ada nama, keterangan kematian, atau informasi apa pun pada kedua nisan itu.

Tetapi, sebuah plang di pinggir makam tertulis: Situs Cagar Budaya Makam Haji Miskin. Haji Miskin, tokoh yang dikenang sebagai seorang puritan Islam, yang hidup pada masa pergolakan Paderi di Minangkabau. Ia terlibat dalam sejarah panjang perang saudara antara Islam dan adat di Minangkabau. Cara dia keras, radikal, lagi fanatik. Tetapi di zaman dia hidup, bagi pengikutnya, dia jelas pembaharu, pendobrak kekolotan rezim adat, ketidakbecusan elit penguasa mengemban amanat.

Foto : Fatris MF