Perahu Kora-kora, Lambang Ketangguhan Maluku

Kapal asli dari Kepulauan Maluku. Panjangnya sekitar 10 meter, diperlukan 40 orang untuk mendayungnya agar bisa melaju cepat. Kapal Kora-kora memiliki 2 buah kemudi, di masa lalu batang ini dihiasi kepala-kepala musuh yang ditaklukkan.

Kora-kora adalah sejenis perahu besar bercadik kembar berganda, bertiang tiga yang digerakkan dayung atau layar. Kata ini berasal dari bahasa Spanyol Carraca yang berarti dua anak dari ikan toni (ikan terbang) yang memiliki nama ilmiah Cypsilurus Poecilopterus. Nama dari perahu ini memang berasal atau terinspirasi dari bahasa Spanyol dan Portugis.

Perahu Kora-Kora memiliki nilai historis tersendiri bagi masyarakat Ternate, Maluku. Sebab, kora-kora juga termasuk kapal asli dari Kepulauan Maluku. Perahu Kora-kora memilki panjang skitar 10 meter dan memiliki diameter yang sempit. Dengan ukurannnya yang lumayan panjang, untuk membuat perahu ini melaju setidaknya diperlukan 40 orang untuk mendayungnya. Sehingga tidak heran lagi kalau kapal atau perahu ini dapat dijadikan tulang punggung para masyarakat Maluku pada saat itu.

Kapal Kora-kora memiliki 2 buah kemudi di bagian samping, batang tinggi di buritan, dan haluan dihiasi pita-pita. Pada masa lalu, batang ini dihiasi kepala-kepala musuh yang ditaklukkan

Mena Muria, Berlayar Untuk Semua
Salah satu keahlian masyarakat Maluku adalah membuat perahu. Perahu Kora-Kora mulai dibangun oleh masyarakat Maluku sejak zaman penjajahan Portugis di tahun 1920. Saat itu Portugis bermaksud menguasai kekayaan rempah-rempah yang ada di Maluku. Maka, dibuatlah perahu kora-kora besar sebagai armada perang di laut yang berbentuk mirip perahu naga Cina.

Selain digunakan untuk berperang melawan Portugis, Spanyol, dan Belanda, perahu kora-kora juga dijadikan sebagai perahu komoditi yang digunakan untuk perdagangan antarpulau. Saat ini, perahu kora-kora digunakan untuk ritual dan kegiatan festival lomba adu dayung sebagai bagian atraksi wisata kepada wisatawan domestik ataupun internasional.

Perahu Kora-Kora 90 persen dibuat dari kayu Gofasa dan 10 persennya menggunakan jenis kayu Marfala. Panjang perahu kora-kora saat ini adalah 8,5 meter dengan lebar 1 meter dan tinggi 0,8 meter. Sejak zaman dahulu para pengemudi dan pendayung perahu dayung tradisional Maluku ini berteriak 'Mena Muria', untuk menyesuaikan tolakan dayung mereka saat ekspedisi di pantai. Ini berarti 'maju - mundur', tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi 'Aku pergi - kami mengikuti' atau 'satu untuk semua - semua untuk satu'.

Setiap tahunnya digelar Festival Kora Kora untuk melestarikan kapal ini. Festival yang berlangsung di kota Ternate ini merupakan sebuah festival yang bertujuan untuk menaiki potensi wisata bahari di Negeri Maluku, sekaligus juga untuk selalu mengingatkan kepada kita bahwa perahu kora-kora ini bukanlah hanya sekedar perahu biasa.

Foto : Embong Salampessi