Dua Kisah di Balik Terciptanya Pura Gunung Kawi

Dari sekian pura yang ada di Bali, Pura Gunung Kawi adalah salah satu pura yang patut kita kunjungi. Selain lokasinya yang unik, pura ini berbeda dengan pura Bali kebanyakan.

Pura Gunung Kawi adalah sebuah pura yang berlokasi di wilayah Banjar (Dusun) Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Yang membedakan kawasan Pura Gunung Kawi dengan pura lain di Bali lokasinya yang berada di dasar lembah sehingga ketika menuju ke sana, kita harus menuruni 300an anak tangga yang diapit hamparan sawah hijau di kanan kirinya.

Perbedaan lainnya adalah pura ini memiliki candi yang dipahat langsung di dinding tebing. Selain indah dipandang, pahatan candi yang ada di dinding tebing batu ini memiliki beberapa makna dan fungsi.

Menurut beberapa sumber literatur, adanya pahatan ini mengilhami penamaan kawasan ini. Ada yang menyebutkan bahwa kata ukiran dalam bahasa Jawa Kuno adalah Kawi. Karena adanya candi yang diukir di dinding tebing dan berada di pegunungan maka pura yang ada di kawasan ini disebut Pura Gunung Kawi.

Tulisan-tulisan yang ada di setiap pahatan, menurut arkeolog, menunjukan bahwa Pura Gunung Kawi dibuat pada abad ke-11.  Pada masa itu, pemerintahan yang sedang berkuasa adalah Raja Marakatapangkaja.

Oleh karena itu banyak pihak yang mengatakan bahwa komplek pura Gunung Kawi ini dibangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu. Salah satu bukti bahwa Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan pembangunan ini adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu.

Selain itu di sini juga terdapat makam abu Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin kerajaan terbesar di Bali. Makam abu kedua raja ini berada di balik pahatan candi dinding. Dengan adanya makam ini, tak heran bila komplek pura ini disebut sebagai juga sebagai makam Dinasti Warmadewa.

Sementara, warga di sekitar Pura Gunung Kawi percaya bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh Kebo Iwa, tokoh legenda rakyat Bali yang memiliki kekuatan besar. Konon, ia membuat pahatan candi di tebing batu ini menggunakan kuku tangannya.

Siapapun yang membangunnya, yang jelas, pura purbakala ini sangat indah dan wajib dimasukkan ke dalam list kunjungan Sobat Pesona di Bali.