Anahida, Mutiara Sumba yang Secantik Senja

Perhiasan kebanggaan orang Sumba, Rote, Sabu. Jadi simbol dan identitas pemakai. Jumlah untaian kedudukan dan status, kekayaan, serta keberhasilannya dalam hidup. Incaran pencinta aksesori etnik, pelancong, hingga VOC.

Di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, hampir seluruh warganya mempercantik diri dengan mengenakan perhiasan. Mulai dari kalung, gelang, hingga ikat kepala dan aneka hiasan kepala lainnya. Selain itu, perhiasan-perhiasan ini juga merupakan bagian dari adat istiadat yang menjadi kebanggaan para warga Sumba.

Salah satu yang paling banyak digunakan adalah manik-manik tradisional antik berwarna oranye terang seperti kilau mentari di kala senja. Manik-manik ini biasanya diuntai menjadi kalung dan dikenakan bertumpuk-tumpuk di leher. Warga Sumba menyebutnya manik anahida atau muti salak. Anahida tak hanya tersohor di Sumba saja, tapi juga terkenal di Pulau timor, Sabu, dan Rote.

Bagi warga Sumba, manik anahida yang dijadikan untaian kalung merupakan bagian dari budaya serta menjadi simbol identitas sang pemakai. Jumlah untaian dalam kalung yang dikenakan menunjukkan kedudukan dan status si pemakai dalam budaya, kekayaan dan kemampuan ekonominya, serta menunjukkan keberhasilannya dalam hidup.

Selain itu, kalung anahida juga dijadikan mas kawin atau belis yang sama berharganya dengan emas, perak, dan hewan ternak. 

Jadi Incaran Penjajah
Menurut beberapa sumber, anahida sudah dikenal warga NTT sejak abad ke-17. Konon, perhiasan ini berasal dari India dan dibawa oleh pedagang Cina bersama dengan aneka barang pecah belah lainnya untuk ditukar dengan kayu cendana di Sumba.

Kaum pribumi yang telah menanti datangnya para pedagang Cina di pantai-pantai Pulau Timor membawa cendana dan lilin. Dua komoditas itulah yang kemudian ditukarkan dengan barang-barang yang dibawa kaum pedagang, seperti kain lenan putih, pisau, parang, mangkuk, piring, dan manik anahida.

Anahida sendiri terbuat dari manik tradisional dari batu alam sebesar biji jagung yang dirangkai secara sederhana. Batu alam yang jadi bahan utamanya merupakan batu alam berharga dari masa silam, makanya harga perhiasan ini sangat mahal. Saat masa kolonial, VOC pun pernah meminta upeti berupa manik anahida karena mengetahui seberapa berharganya manik tersebut.

VOC yang berkedudukan di Kupang, NTT kala itu memberi penekanan pada kaum pribumi sehingga mengakibatkan perlawanan yang dipimpin oleh Rai Dimu. Kemudian di tahun 1674, rakyat Dimu merampas kapal VOC dan membunuh awak kapalnya. Hal ini tentu membuat VOC geram hingga akhirnya mengirim ekspedisi untuk menghancurkan Dimu.

Perang itu berakhir dengan gencatan senjata. Namun VOC menuntut rakyat Dimu untuk membayar ganti rugi sebanyak 300 budak, 150 tahel emas, dan 150 tahel anahida.

Kini, harga kalung anahida yang asli bisa mencapai jutaan rupiah. Maka dari itu banyak pedagang nakal yang membuat tiruannya. Konon, untuk membedakan anahida asli dengan palsu adalah dengan cara menempelkannya di ujung lidah. Jika terasa sedingin es, maka anahida tersebut asli dan berharga tinggi.