Bedhaya Ketawang, Tarian Sakral dari Langit Jawa

Tarian sakral yang ditarikan hanya ditampilkan pada momen sangat istimewa, seperti penobatan raja. Penari yang membawakannya pun mesti suci. Konon, tarian ini mengisahkan percintaan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul.

Adat dan budaya Jawa memiliki banyak sekali jenis tarian tradisional yang diwariskan secara turun temurun. Salah satu tarian tradisional yang hingga kini masih dilestarikan adalah tari Bedhaya Ketawang. Tari yang satu ini diwariskan secara turun temurun oleh Kasunanan Surakarta. 

Dulunya, Yogyakarta dan Surakarta merupakan satu kesatuan yang tergabung dalam Kesultanan Mataram. Di suatu masa, Kesultanan Mataram berada di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang kemudian menjadi tokoh penting di balik terciptanya tarian Bedhaya Ketawang.

Wanita yang Mulia
Menurut kisah yang dituturkan dalam sejarah, Sang Sultan yang tengah bersemedi tiba-tiba mendengar senandung merdu yang seolah turun dari langit. Mendengar suara yang merdu dan mengalun lembut itu, Sultan Agung pun terkesima hingga akhirnya memanggil empat orang pengiringnya untuk menyampaikan peristiwa gaib tersebut.

Setelahnya, Sultan Agung terinspirasi untuk menciptakan tarian yang ia beri nama Bedhaya Ketawang. Namanya sendiri menyimbolkan peristiwa gaib yang dialami Sultan Agung. Kata Bedhaya berarti seorang penari wanita di istana sementara kata Ketawang bermakna langit atau sesuatu yang tinggi dan mulia.

Namun kisah lain menyebutkan bahwa tarian ini tercipta dari kisah cinta Panembahan Senapati dan Kangjeng Ratu Kidul. Setelah Kesultanan Mataram jatuh dan terjadi pembagian harta warisan kepada Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, akhirnya Tari Bedhaya Ketawang resmi dinyatakan milik Istana Surakarta. Hal itu diputuskan dalam peristiwa Perjanjian Giyanti di tahun 1755.

Sakral dan Penuh Syarat
Hingga saat ini, tarian Bedhaya Ketawang masih kerap ditampilkan dalam acara-acara resmi seperti penobatan dan peringatan kenaikan tahta Sunan Surakarta. Tarian ini tak bisa sembarangan dipertontonkan di depan khalayak ramai karena dianggap sakral dan sangat resmi.

Tiap gerakan juga lirik tembang yang dinyanyikan dalam tarian ini seluruhnya menggambarkan sosok Kangjeng Ratu Kidul dan perasaan cintanya pada sang raja. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika tarian ini ditampilkan, maka Kangjeng Ratu Kidul akan hadir dan menjadi penari kesepuluh, menemani sembilan orang wanita yang menarikan tarian ini. Ya, tarian ini wajib dibawakan oleh sembilan wanita karena menggambarkan sembilan arah mata angin dalam mitologi Jawa yang dikuasai sembilan dewa Nawasanga.

Karena sakral, resmi, dan juga dipercaya sebagai suatu hal yang mistis, para penari yang dipercaya untuk membawakan tarian ini haruslah mengikuti aturan dan memenuhi berbagai syarat yang ditentukan.

Syarat utama untuk menjadi penari Bedhaya Ketawang adalah harus berstatus sebagai seorang gadis suci dan tidak sedang mengalami haid. Kalaupun penari sedang datang bulan, maka ia harus memohon izin kepada Kangjeng Ratu Kidul dengan melakukan caos dhahar atau ritual menyiapkan makanan dan sesaji. Ritual ini dilakukan di Panggung Sangga Buwana, Keraton Surakarta.

Syarat lainnya yang harus dipenuhi adalah suci secara batiniah. Caranya, penari harus berpuasa selama beberapa hari menjelang pertunjukan tari dilangsungkan. Kesucian para penari memang sangat diutamakan karena dengan cara itulah Kangjeng Ratu Kidul bersedia untuk menghampiri para penari di saat masa latihan, terutama yang gerakan tarinya masih salah atau belum sempurna.

Selain kesucian, penari juga harus mengenakan busana khusus berupa dodot ageng atau basahan dengan gelung bokor mengkurep dan dilengkapi dengan perhiasan yang terdiri dari centhung, garuda mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, dan tiba dhadha. Sekilas, busana yang didominasi warna hijau itu terlihat sangat mirip dengan busana pengantin dalam adat Jawa. Hal ini menggambarkan bahwa tarian Bedhaya Ketawang memang mengisyaratkan kisah asmara antara Kangjeng Ratu Kidul dan raja-raja Mataram.