Tetesan Embun Surga di Telaga Biru Opersnondi

Telaga biru, bening menawan di tengah hutan Biak. Konon ranting dan batang mati yang ada di dalamnya sudah ada sejak masa leluhur orang Sepse.

Ini adalah destinasi wisata yang terbilang baru dan juga tengah happening  di daftar destinasi wisata kota Biak. "Baru sekitar 2 tahun tempat ini dikenal secara luas," papar Melky, rekan perjalanan Sobat Pesona yang hapal luar dalam spot-spot wisata di Biak.

Terletak di Distrik Biak Timur, tepatnya di Kampung Sepse. Jarak Telaga Opersnondi atau yang lebih populer dengan nama Telaga Biru tidak terlalu jauh dari kota Biak, namun rute yang dilalui cukup menantang. Dipenuhi kelokan-kelokan tajam dan juga tanjakan maupun turunan yang curam. Namun sepanjang jalan, kita dimanjakan dengan rapatnya hutan yang berada di sisi kiri dan kanan jalan. Pohonnya pun besar-besar. Membuat perjalanan menuju lokasi tidak terasa membosankan.

Ada pos retribusi  begitu mendekati spot wisata  tersebut , untuk mobil dikenakan biaya 50 ribu sedangkan motor 20 ribu. Terasa mahal? Rasanya tidak. Karena di sini kita bisa mengunjungi 2 spot wisata yang berbeda Telaga Biru dan juga Pantai Samares sekaligus.

Sebening Embun
Dari parkiran, susunan anak tangga  menyambut setiap pengunjung telaga. Salut dengan fasilitas yang disediakan, sudah sangat memadai. Bangku-bangku semen disediakan dalam jarak tertentu dapat dimanfaatkan untuk rehat sejenak. Kicauan berbagai jenis burung meramaikan suasana hutan yang masih sangat rapat.

Pepohonan di sepanjang jalur ke lokasi pun diberi label  nama berikut bahasa latinnya, ini menarik. Jadi, sambil mendaki kita bisa belajar mengenal vegetasi di sepanjang tangga menuju Telaga Biru.

Perjalanan menyusuri tangga ini tidak sampai 300 meter. Pemandangan menakjubkan menyapa dari balik pepohonan, sebuah telaga kecil berdiameter sekitar 30-40 meter. Kontras sekali birunya di antara hijaunya rerimbunan.

Begitu mendekat, Sobat Pesona makin ternganga. Tidak hanya biru, namun kejernihan airnya juga menawan. Pohon-pohon mati dan juga karang -karang didalamnya terlihat sangat jelas. Dalam hati timbul penyesalan, kenapa tidak membawa  kamera yang bisa mengabadikan keindahan bawah air. 

Visibilitas didalamnya sangat baik. Dua orang pemuda asal Manokwari datang lengkap membawa snorkle dan juga fin. Mereka begitu menikmati segarnya air telaga ini. Oya air disini terasa payau, cukup aneh memang. Secara logika walaupun dekat dengan laut, namun ketinggiannya cukup jauh. Oya walaupun tidak begitu luas, namun titik terdalam telaga ini mencapai  kedalaman hampir menyentuh 15 meter. Luar biasa!

Telaga Sakral
Menurut kepercayaan masyarakat Sepse yang tinggal di sekitar telaga, kandungan dari air tersebut memiliki semacam zat pengawet.  Berdasarkan cerita, ranting-ranting dan batang mati yang ada di dalamnya sudah ada sejak masa leluhur orang Sepse.  Dan benda-benda tersebut tidak lapuk dan terurai di makan waktu. Dan konon dahulu tempat ini disakralkan oleh masyarakat setempat.

Fasilitas yang menunjang kenyamanan wisatawan juga di sediakan di sekitar telaga, jembatan-jembatan kayu yang tampaknya belum lama dibangun,, sehingga pengunjung tidak lagi harus meniti batu karang yang licin ketika ingin menggapai tepi telaga.

Di sana-sini tersebar poster-poster yang menggalakkan kebersihan, dan kelestarian alam . Banyak kalimat-kalimat yang menarik. Salah satunya "Ingat E... Yang tertinggal hanya jejak kaki, karena nene dan tete juga tau kalau SAMPAH itu bukan jejak kaki.... “ Kemudian, "Tra bantu tanam pohon, jadi jang patah pohon sembarang di telaga." Dan masih banyak lagi kampanye meningkatkan kesadaran dengan bahasa yang provokatif.

Tampaknya lokasi ini dijaga betul oleh Kelompok Ekowisata Kampung Sepso yang mengelola lokasi ini. Disadari atau tidak, sampah memang menjadi momok bagi  area-area wisata di Indonesia.

So, kalau traveling jangan nyampah ya..