Lemang Kantong Semar, Kelezatan Dalam Tanaman Khas Kerinci

Dalam bahasa lokal disebut kancung beruk lemang. Dibuat dari tanaman kantong semar, beras ketan dan santan, disajikan bersama gulai. Hidangan istimewa, hanya disajikan di momen istimewa seperti kenduri adat.

Kantong Semar berbentuk termos atau Nephents ampularia merupakan salah satu flora yang mudah dijumpai di Taman Nasional Kerinci Seblat. Batangnya berwarna cokelat dan bisa tumbuh sepanjang 15 meter. Daunnya hijau dengan kantong berwarna hijau atau merah. Kantong inilah yang digunakan untuk menjebak mangsa berupa serangga dan hewan kecil.

Uniknya, tanaman pemakan hewan dan serangga ini dapat diolah menjadi salah satu panganan lezat yang sangat khas di Kerinci. Namanya lemang kantong semar. Lemang kantong semar merupakan makanan berupa beras ketan yang dikukus di dalam tanaman kantong semar. Karena beras ketan dicampur dengan santan kelapa dan garam, cita rasa yang dihasilkan menjadi gurih dan lezat saat dimakan.


Suguhan Kenduri Adat
Biasanya, lemang kantong semar disantap sebagai pengganti nasi dan disajikan bersama gulai atau kuah kacang. Bagi penggemar rasa manis, juga bisa menyiramkan kuah srikaya yang manis ke atas lemang. Hmm, nikmat tentunya.

Namun tak setiap hari kamu bisa menjumpai panganan unik ini. Sebab, lemang kantong semar hanya dimasak dan disantap di hari-hari khusus saja, misalnya pada acara Kenduri Adat Sko yang berlangsung pada bulan Agustus atau September.

Untuk membuat lemang kantong semar, yang harus dilakukan adalah memetik tanaman kantong semar dan mencucinya hingga bersih. Batangnya tidak boleh dihilangkan agar kantong semar tidak bocor dan bisa menampung isian, beras ketan yang dicampur air santan kelapa beserta garam. Kantong semar yang telah berisi beras ketan disusun ke dalam panci dan dikukus hingga matang. Lemang kantong semar pun bisa langsung disantap hangat-hangat.

Karena keunikan dan kelezatannya, panganan unik ini pun terpilih sebagai makanan tradisional terpopuler dalam penghargaan Anugerah Pesona Indonesia II 2017. Semoga dengan predikat tersebut, pemerintah dan warga Kerinci bisa terus melestarikan panganan unik yang satu ini hingga ke generasi-generasi yang akan datang.

Foto : Hendi Fresco