Menyatu Dengan Alam di Kampung Baduy

Banten memang terkenal dengan banyaknya objek wisata, mulai dari wisata alam, kuliner, hingga wisata budaya. Salah satu destinasi wisata yang terkenal di sana adalah Kampung Baduy. Di sana, kita bisa menjelma menjadi anggota suku dan merasakan kehidupan tradisional mereka.

Buat Sobat Pesona yang menginginkan sensasi berlibur yang berbeda, bisa mencoba untuk berkunjung ke Kampung Baduy atau Kampung Kanekes yang ada di Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Wilayah Suku Baduy telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah Lebak pada tahun 1990, karena kawasan yang melintas dari Desa Ciboleger hingga Rangkasbitung ini telah menjadi tempat bermukimnya Suku Baduy yang menjadi suku asli Provinsi Banten.

Terdapat 65 kampung yang terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang paling mendasar dari kedua suku ini adalah cara mereka dalam menjalankan aturan adat. Baduy Dalam masih memegang teguh adatnya, sementara Baduy Luar sudah mulai menerima perkembangan zaman.

Jumlah penduduk yang ada di sana berkisar antara 11.700 penduduk, yang mayoritas bekerja di ladang, sawah, atau membuat kerajinan tangan di rumah seperti tas, anyaman, dan tenun. Di Kampung Baduy, kita bisa melihat dan mempelajari aneka kearifan lokal yang masih terjaga. Tak cuma itu, kita juga bisa menikmati alam yang masih begitu asri, karena tak tersentuh teknologi dan pembangunan.

Rumah di Kampung Baduy masih sangat sederhana. Hanya terbuat dari batu kali, kayu, dan bambu. Sementara itu, tanahnya masih miring dan tak rata, karena tak mau merusak alam yang telah memberi mereka kehidupan.

Rumah mereka memiliki tiga ruangan, bagian depan untuk menerima tamu dan tempat menenun bagi kaum wanita. Bagian tengah sebagai ruang tidur dan ruang keluarga. Sementara ruang terakhir digunakan untuk memasak dan tempat menyimpan hasil ladang.


Punya Tata Tertib
Namun, kalau Sobat Pesona pengin berkunjung ke Kampung Baduy, maka harus menaati aturan yang ada. Misalnya, kita diwajibkan melapor saat berkunjung, menjaga kebersihan, ketertiban, dan kesopanan selama ada di kampung tersebut. Selain itu, kawasan Baduy Dalam hanya bisa dimasuki sebelum jam 5 sore. Wisatawan juga diminta untuk tak membawa radio atau tape, gitar, senjata api, dan pengeras suara.

Aturan unik lain, pengunjung dilarang membawa nasi kotak yang mengandung unsur plastik dan kertas, serta harus membuang puntung rokok yang masih menyala. Kemudian kita juga tak diperkenankan membawa dan menggunakan sabun, shampoo, dan pasta gigi saat mandi di sungai Baduy Dalam.

Kemudian, selama Bulan Februari hingga April, kampung Baduy Dalam tertutup dan tak menerima kunjungan. Alasannya karena saat itu tengah berlangsung tradisi Kawalu. Tradisi yang dilakukan warga dengan berpuasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai, dan sejahtera. Hal ini sudah ada sejak nenek moyang dan terus dilestarikan oleh suku Baduy.