PLBN Motaain, Ketika Perbatasan Jadi Objek Wisata Menarik

PLBN Motaain, Pos Lintas Batas Negara di Nusa Tenggara Timur merupakan pos perbatasan yang paling ramai dilalui pelintas batas. Dulu tak layak jadi pintu gerbang negara Indonesia, kini disulap menjadi megah dan jadi objek wisata menarik.

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Motaain, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berbatasan dengan negara Timor Leste kini sudah menjadi objek wisata yang populer di wilayah tersebut.

Saat ini PLBN Motaain telah menjadi obyek yang menarik untuk warga di sini, warga Kota Atambua, dari luar Kabupaten Belu, NTT. Wisatawan yang berkunjung ke pos lintas batas ini tak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga dari Timor Leste. Kawasan PLBN Motaain biasanya ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur atau akhir pekan, seperti Sabtu dan Minggu. Mereka biasanya datang dengan keluarga, termasuk anak-anak.


Atap Rumah Matabesi
Gedung Pos lintas batas di Motaain kini sudah terlihat berdiri dengan sangat megah. Bentuk bangunannya tampak megah dan jelas kontras sekali dengan bangunan milik warga dan pemerintah setempat yang berada di sekitar area PLBN.

Di kawasan gedung yang dibangun dengan dana Rp 82 miliar ini terlihat para wisatawan yang berkumpul di beberapa titik, seperti di gerbang utama Indonesia - Timor Leste, taman bunga, serta monumen Pancasila yang berada ditengah kompleks tersebut. Bahkan, warga dari Negara Timor Leste banyak yang datang hanya untuk sekadar berfoto bersama di sini, dan setiap harinya selalu ada saja orang yang berkunjung ke sini.

Sebelum diresmikan oleh Jokowi di tahun 2016 lalu, awalnya PLBN Motaain hanya seperti rumah biasa dengan tiang bendera di halaman depannya. Namun, kini pos tersebut disulap menjadi rumah nan megah dengan arsitektur yang mengadopsi bentukan atap rumah Matabesi, yakni rumah tradisional masyarakat Belu.

Ditambah lagi, pada atap bangunan pemeriksaan kendaraan pribadi terdapat corak tenun setempat. Bangunan PLBN Motaain meliputi zona inti yang terdiri dari bangunan utama PLBN, gedung pemeriksaan kendaraan dan power house.

Untuk zona sub inti dan pendukung terdiri dari wisma Indonesia dan mess karyawan serta sarana pendukung lainnya. Arsitektur bangunan diadaptasi dari budaya yang ada pada masyarakat Belu, Timor Barat, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Rencananya, pembangunan akan kembali dilanjutkan hingga Maret 2019 dengan berbagai fasilitas seperti pasar, wisma, dan x-ray.