Kesenian Leluhur Jayapura, Gerabah Kampung Abar

Sejarah kerajinan tangan gerabah di Kampung Abar menurut jurnal tahun 2017 oleh Rini Maryone, salah seorang peneliti dari Balai Arkeologi Papua, diwariskan dari marga Felle, Suku Assatouw sejak masa lalu. Tapi dalam catatan itu, tak ikut dijelaskan suku ini berasal dari mana dan kapan tahun diasporanya. Hanya tertulis, nenek moyang marga Felle bermigrasi dari timur dengan berlayar di lautan, lantas tiba di Kabupaten Jayapura.

Masih tertuang dalam jurnal itu, dalam pelayaran mereka membawa kenda (tanah liat) yang terikat dengan bai (wadah dari pelepah nibun). Lokasi berlabuh mereka, awalnya di Kampung Kayu Batu, Teluk Humboldt, Kota Jayapura.

Tapi mereka hanya sementara di Kampung Kayu Batu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Danau Sentani dan akhirnya tinggal di Kampung Abar. Saat perjalanan dari Kampung Kayu Batu ke Kampung Abar, diduga sebagian tanah liat yang mereka bawa, terjatuh di wilayah Kayu Batu. Dugaan itu menguat karena di Kayu Batu, bisa ditemui para pengrajin gerabah dan lokasi tanah liat.

Kerajinan gerabah di Kampung Abar bervariasi. Untuk wadah papeda selain disebut sempe, masyarakat juga menamainya hele. Selain itu ada kende (piring), dan ebe hele (tempayan) sebagai wadah tepung sagu atau untuk menampung air, bermotif yalu atau ban. Motif ini melambangkan tali persaudaraan. Motif tersebut pun menghiasi sempe ukuran lebih besar, yang dipakai merebus keladi, pisang, daging, dan sayuran.

Selanjutnya ada hote untuk wadah lauk ikan. Hote bisa juga dibuat dari bahan kayu. Sebagai alat bantu menyantap papeda ada hiloi yang mirip garpu, namun berukuran dua kali lipat dan diukir dari bahan kayu.


Cara Membuat dan Fungsi Lain Gerabah
Sekarang para pengrajin dimudahkan dengan adanya alat penghancur tanah liat, meja putar, sampai tungku perapian, ketika membuat berbagai macam peralatan gerabah.

Tapi ada juga pengrajin yang masih memakai teknik lama. Biasanya mereka menggunakan papan kayu sebagai alas. Tanah liat yang dihaluskan dengan diinjak-injak, kemudian dipilah jika ada bebatuan. Bahan itu diperhalus lagi dengan meremas-remasnya. Teknik lama ini memang memakan waktu lebih lama. Proses membentuk, memadatkan, dan merapikannya masih dengan alat bantu sederhana, hanya memakai kayu dan bebatuan.

Setelah dibentuk sesuai kebutuhan, gerabah setengah jadi itu dikeringkan dengan dijemur. Kemudian masuk pada tahap pembakaran, sampai gerabah terlihat kemerah-merahan. Selanjutnya tinggal didinginkan, dibersihkan, dan siap digunakan.

Uniknya lagi, peralatan dari gerabah ini memiliki fungsi sosial. Masyarakat Abar sering mempersiapkan peralatan gerabah, bagi anak-anak mereka yang akan membina rumah tangga baru. Fungsi religi dari peralatan ini pun ada. Gerabah dianggap mengandung nilai religius yang tinggi, berkaitan dengan ketika dimakamkannya seseorang, disertai berbagai macam peralatan sebagai bekal kubur. Akan tetapi tradisi itu dipercayai sebelum agama Kristen masuk. Ajaran Kristen awalnya masuk ke perkampungan di sekitar Danau Sentani, dimulai dari Kampung Ifar, pada tahun 1926.


Lokasi Gerabah Kuno dan Tanah Liat
Kita bisa mengelilingi kampung Abar sampai ke lokasi ditemukannya gerabah kuno, dan tempat para pengrajin mengambil bahan tanah liat. Warga biasanya bersedia menemani pengunjung. Ada lokasi yang berubah menjadi lahan kebun, namun pecahan kecil gerabah kuno masih bisa ditemui pengunjung, jika dicari dengan sabar.

Lokasi tersebut awalnya adalah kampung tua atau posisi Kampung Abar pertama kali, berdasarkan persebaran temuan arkeologi fragmen gerabah. Orang-orang zaman dulu, sering mengubur pecahan gerabah, karena sudah menjadi sampah. Jika di zaman sekarang sampah-sampah perabotan dari bahan plastik, kaca, dan sebagainya, maka di zaman dulu peralatan gerabah yang rusak pun bisa disebut sampah.

Dari sana, pengunjung bisa menyusuri bukit berpadang ilalang, menuju lokasi para pengrajin mengambil tanah liat. Ada dua bukit yang terdapat kandungan tanah liat, akan tetapi jaraknya sekitar satu kilometer dari kampung. Pemandangan di puncak bukit tak kalah indahnya. Danau Sentani terlihat jelas bersama barisan bukit.


Foto : Kristianto Galuwo