Mengintip Uniknya Kampung Adat Karampuang di Sinjai

Sinjai menyimpan warisan budaya yang dilestarikan oleh warga Kampung Karampuang. Di sana, komunitas adat masih menjaga kehidupan tradisional mereka, sehingga menarik perhatian wisatawan.

Di Sinjai, Sulawesi Selatan, ada sebuah kampung di antara bukit berbatu yang dikenal sebagai kampung adat. Namanya Kampung Karampuang. Lokasinya ada di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Bulupoddo, atau sekitar 40 km jaraknya dari pusat Kota Sinjai.

Dari namanya, Karampuang berasal dari dua kata, yakni karaeng dan puang, yang menunjukkan gelar dari orang-orang Gowa dan Bone. Hal ini membuktikan bahwa Sinjai dulunya berada di bawah naungan Kerajaan Gowa dan Bone.

Uniknya, seluruh warga di Kampung Karampuang kompak memegang teguh nilai-nilai budaya lokal. Mereka tampaknya enggan untuk bersatu dengan budaya modern, dan memilih menepi sambil melestarikan budaya serta adat yang mereka miliki.

Namun, tidak sembarang orang bisa masuk ke Kampung Karampuang. Ada sebuah ritual khusus yang mesti kita lakukan sebelum diperbolehkan memasuki kawasan ini. Ritual itu dilakukan dengan mengambil sebuah batu dan selembar daun, kemudian diletakkan dengan posisi batu berada di atas daun. Ritual itu merupakan tanda pemberian kehormatan terhadap para penguasa yang berwujud gaib di sana. Batu dipilih untuk menghormati para penguasa manusia di kampung tersebut.

 

Menjunjung Tinggi Wanita
Nah, memasuki Kampung Karampuang, Sobat Pesona akan melihat sistem pemerintahan adat, di mana ada empat pemimpin adat yang bernama arung (raja), gella (perdana menteri), sanro (menteri kesehatan), dan guru (menteri pendidikan).

Selayaknya kerajaan, di Kampung Karampuang pun ada istana bagi arung sang pemimpin. Nama kediamannya adalah toma tua atau rumah tua yang dipercaya sudah ada sejak abad ke-17. Bentuknya seperti rumah panggung sederhana dengan atap jerami.

Dulunya, kawasan adat ini dipimpin oleh seorang wanita, sehingga membuat penduduk menganut sistem matrilineal. Makanya, rumah arung pun diibaratkan seperti tubuh seorang wanita. Di sana, tiang-tiangnya diumpamakan sebagai baju, sedangkan ornamen di atas rumah menjadi antingnya. Lalu pintu rumah yang ada di antara dua tiang melambangkan kemaluan wanita atau pintu bunga mawar, karena merupakan tempat manusia pertama kali keluar dari rahim dan menghirup udara segar.

 

Kolam Kuno dan Makam Purba
Keunikan lain yang ada di Kampung Karampuang adalah kolam tua yang digunakan untuk memandikan balita. Biasanya, kalau air kolam melimpah, warga akan berebut memandikan bayinya di sana. Karena air kolam tersebut dianggap membawa berkah. Selain itu, terdapat goresan situs purba bernama manusia kangkang, dan ribuan makam purba yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat.