Putar-putar Dalam Perahu, Jalan Sungai di Malinau

Tak semua daerah di Malinau, Kalimantan Utara dapat dijangkau dengan moda transportasi darat. Itu sebab perahu menjadi pilihan. Sungai yang mengalir di mana-mana menjadi “jalan” dengan suguhan pemandangan mengasyikkan.

Iya benar. Bila datang ke Desa Wisata Setulang atau Pulau Sapi di Malinau, jangan lupa untuk berperahu. Lingkungan dan kehidupan di sepanjang sungai menyuguhkan pemandangan dari sudut berbeda.

Sungai Setulang yang melintas di desa, terbilang kecil.  Ketinggian airnya hanya satu hingga tiga meter. Di beberapa bagian malah bisa lebih dangkal. Pengemudi ketingting (perahu kecil dengan mesin 8-14 PK) yang “hafal jalan” biasanya akan menjalankan perahunya kadang ke tengah, kadang ke tepian. Semua dilakukan untuk menghindari hamparan batu di dasar sungai.

“Kalau sampai tersangkut batu, repot juga. Baling-baling bisa patah. Atau kalau sudah telanjur tak bisa bergerak, penumpang harus turun. Perahu kita dorong ramai-ramai,” jelas Jalung, warga Desa Setulang yang berpengalaman melintas di sungai-sungai besar di Kalimantan Utara.


Menuju Tana Olen
Dari Desa Setulang ke “jalur masuk” menuju hutan adat Tana Olen, waktu tempuh hanya sekitar setengah jam, melawan arus. Di sepanjang perjalanan para wisatawan akan bersua aneka burung yang membuat sarang di pohon-pohon di tepian sungai.

Pohon-pohon besar menjulang di sepanjang tepian. Kadang di beberapa area terlihat beberapa ladang milik warga Setulang. “Banyak juga warga yang mendirikan gubuk sederhana untuk bermalam di ladang. Karena mungkin repot kalau bolak-balik ke kampung, harus mendayung perahu, jadi mereka memilih untuk bermalam,” jelas Bisin, salah seorang sesepuh desa.

Berangkat pagi-pagi dari Desa Setulang adalah waktu yang relatif ideal. Cahaya pagi yang menerobos di sela-sela pohon bisa sangat menarik bagi penggemar fotografi.

Buat yang menyukai sedikit petualangan, Anda bisa menginap di “pintu masuk” menuju Tana Olen. Di tempat itu warga mendirikan bangunan. Para penggemar kegiatan alam bebas atau fotografi, biasanya akan memanfaatkan “rumah” sebagai basecamp.

Dua bangunan kayu yang cukup representatif bisa dimanfaatkan bagi yang ingin bermalam.  Ada belasan ranjang, serta tempat duduk-duduk yang nyaman.

Dari basecamp Anda bisa berjalan kaki, menuju dataran tinggi hutan adat Tana Oleh. Jarak tempuh sekitar tiga jam. “Agak naik turun, tetapi itu jalan santai kok. Kalau capek, ya berhenti-berhenti dulu,” terang Basmairan, pemuda Setulang yang aktif di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Penelitian yang dilakukan  Center for International Forestry Research (CIFOR) tahun 2004-2005 menyebutkan bahwa secara umum kondisi hutan Desa Setulang sangat baik. Banyak pohon-pohon yang berukuran raksasa dan tersebar di berbagai tempat. Ukuran pohon terbesar yang dijumpai mempunyai lingkar batang di atas 1.250 cm atau dengan diameter batang sebesar 398 cm. Menurut masyarakat setempat jenis pohon tersebut dinamakan “beteny”.

Jenis pohon berukuran raksasa lainnya yang umum dijumpai adalah “majau” Salah satu pohonnya dapat dijumpai di lereng bukit bagian atas daerah antara anak sungai (lalut) Tenapan dan lalut Payang.

Pohon yang terakhir ini berukuran lingkar batang di atas banir 700 cm atau dengan diameter batang 223 cm. Pohon-pohon yang berukuran besar ini umumnya mempunyai tinggi lebih dari 40 m dengan posisi tajuk yang menjulang di atas tajuk hutan yang sebenarnya.

Jenis-jenis pohon lain yang juga mempunyai tajuk serupa, ada juga. Antara lain disebut sebagai “banggeris” dan “jelutung gunung”. Bila Anda kembali dari arah basecamp ke Desa Setulang, niscaya Anda akan disuguhi pemandangan lain. Pada sore hari, warga, terutama anak-anak, akan terlihat bermain-main di tepian sungai. 

Mandi sore, rame-rame. Derai tawa anak-anak dengan segala tingkah-laku membuat senja di Sungai Setulang begitu semarak.

Foto : Eddy Suhardy