Senam Jantung Membelah Sungai Mentarang Nan Lebar

Sungai Mentarang mengalir dari kawasan Long Berang, Desa Paking, Desa Pulau Sapi, hingga ke kota Malinau.

Jalan-jalan di Kalimantan, sangat mungkin berarti, jalan-jalan naik perahu sepanjang sungai. Karena fasilitas jalan yang masih terbatas, jalan-jalan di Kalimantan seringkali lebih cepat dan lebih menarik dilakukan lewat sungi. Salah satu sungai yang enak diarungi adalah Sungai Mentarang di Malinau, Kalimantan Utara.

Sungai Mentarang relatif lebih lebar. Arusnya pun lebih deras. Karena itu butuh perahu panjang (long boat) dengan mesin sekitar 40 PK. Apalagi kalau kita berangkat dari Pulau Sapi menuju arah Taman Nasional Kayan-Mentarang bagian timur, praktis harus melawan arus. Bahkan di beberapa titik terdapat jeram. Agak deras dan lumayan bisa mengombang-ambingkan penumpang serta isi perahu.


Ngeri-Ngeri Sedap
Bila penumpang long boat hanya 5-6 orang, driver perahu biasanya hanya membawa satu mesin. “ Tetapi kalau penuh, hingga 12-an orang, biasanya saya bawa dua mesin,” terang Yanto, driver long boat yang mengenal betul karakter sungai di wilayahnya hingga Long Berang (lima jam dari Pulau Sapi).

Ada beberapa titik yang menyenangkan saat berperahu. Selepas Desa Paking dari arah Desa Pulau Sapi, ada dua pertemuan arus antara arus Sungai Kayan dan Sungai Mentarang. Arus kencang menggulingkan bebatuan hingga membentuk semacam delta di tengah-tengah pertigaan sungai.

Lalu selepas itu, kita akan menjumpai jeram di mana air sedikit “bergolak” karena arus turun dari bagian sungai yang lebih tinggi. Driver longboat yang sering melintas sudah mafhum atas kondisi ini. Yanto, misalnya, akan memainkan “gas” untuk memecah arus dan membuat manuver.

Kita akan dibawa berkelok, melambung ke arah tepi, berputar ke tengah dan selepas dua-tiga kali jumping, perahu akan melaju tenang meski harus melawan aliran sungai.

“Makin jauh kita melaju, misalnya ke arah Long Berang, akan makin banyak dijumpai jeram yang airnya lebih kencang,” terang “Kapten” Yanto, yang sudah lebih dari 15 tahun mengarungi sungai di Kalimantan Utara.

Di titik antara Desa Paking dan Desa Tangung ada tempat rehat. Batu-batu di pinggiran sungai bisa dijadikan tempat duduk dan meja. Bebatuannya nyaman diduduki karena halus seperti habis diampelas.

Air jernih mengalir dari bagian atas hutan. Air yang layak diwadahi di dalam panci atau teko. Buatlah api, jeranglah air. Bukalah perbekalan, tuangkan kopi. Duduk-duduk di tepi sungai jadi begitu menyenangkan. Sambil ngobrol ke sana-sini, nikmati suara arus sungai yang mungkin tak akan bisa kita dengar di perkotaan.

Foto : Eddy Suhardy