Pegunungan Cyclops, Puncak Awan Pelindung Jayapura

Deretan pegunungan sakral, pelindung dan sumber kehidupan Jayapura dan sekitarnya. Pegunungan Cyclops menjadi sumber pasokan air bersih bagi Jayapura dan rumah bagi 653 spesies langka.

Pegunungan Cyclops disebut sebagai Pegunungan Dobonsolo atau Pegunungan Robhong Holo, adalah jajaran pegunungan di Jayapura. Panjang pegunungan ini mencapai 36 kilometer dan membentang dari barat ke timur. Pegunungan Cyclop memiliki beberapa puncak tertinggi, yakni Gunung Dafonsoro (1.580 mdpl), Gunung Butefon (1.450 mdpl), Gunung Robhong (1.970 mdpl), Gunung Helufoi (1.960 mdpl), Gunung Rafeni (1.700 mdpl), dan Gunung Adumama (1.560 mdpl).


Legenda Robhong Holo
Bagi masyarakat adat Sentani, nama Robhong Holo memiliki arti tersendiri. Nama ini berasal dari sebuah legenda dimana ada sesosok wanita bernama Rhobong yang pergi ke sisi utara dimana ia bertemu dengan seorang pria bernama Haelufoi. Setelahnya, keduanya menghilang dan tak terlacak lagi keberadaannya. Untuk mengenal wujud keduanya dalam bentuk fisik, puncak Gunung Dobonsolo bagian timur adalah Haelufoi sedang puncak Gunung Dobonsolo bagian barat adalah Robhong.

Berbeda lagi dengan nama Cyclops yang ternyata berasal dari kata Cycoon Op. Dalam Bahasa Belanda, Cycoon artinya awan kecil yang terpecah-pecah sedangkan Op berarti puncak. Secara harfiah, artinya awan-awan kecil yang ada di puncak gunung. Awan kecil inilah yang sering terlihat di sekitar Gunung Cyclops di kala angin bertiup.

Pegunungan Cyclops yang berdiri membentang kerap dianggap sebagai benteng pelindung bagi warga di dataran Jayapura. Selain itu, di kaki gunung, terdapat Danau Sentani yang luas dan berair jernih. Dari Cyclopslah warga mendapat pasokan air bersih yang bermanfaat untuk keberlangsungan hidup mereka. Maka layaklah kalau Cyclops dan seluruh isinya dianggap sebagai pelindung masyarakat Jayapura.


Habitat 653 Spesies Langka
Selain indah dan asri, Pegunungan Cyclops juga memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistem yang perlu dilindungi agar senantiasa terjaga kelestariannya. Maka dari itu, kawasan ini kemudian dinyatakan sebagai cagar alam di tahun 1987 oleh pemerintah setempat. Event khusus pun digelar untuk membangun kecintaan pada Cyclops, seperti Festival Cyclops.

Berdasarkan laporan WWF, Pegunungan Cyclops dihuni oleh 278 jenis burung, 86 jenis mamalia, 65 jenis reptile, 38 jenis katak, 38 jenis tumbuhan paku, 10 jenis anggrek, dan 138 jenis pohon. Di kawasan cagar alam ini juga banyak didapati satwa liar endemik seperti kuskus tutul hitam, kanguru pohon, bandikut, burung mandar, hingga ekidna.

Ekidna atau Porroglossum echidna memiliki tubuh berduri mirip landak yang merupakan penghuni asli hutan Papua. Sayangnya, ekidna cukup sulit ditemui dan kini terancam punah.   Untuk flora, salah satu tumbuhan asli Pegunungan Cyclops yang terancam punah adalah kayu sowang. Penyebabnya, karena kayu sowang kerap diambil untuk dijadikan arang karena kualitasnya yang sangat baik dan unggul. 

Namun kini warga dan suku adat bahu membahu untuk memperhatikan lingkungan. Untuk menjaga kelestarian dan keanekaragaman hayati di Pegunungan Cyclops, warga sekitar sepakat untuk memberlakukan peraturan adat yang mengatur siapapun agar tak sembarangan berburu, berkebun, atau mendatangi tempat-tempat yang disakralkan di gunung tersebut.