Kepulauan Fam, Konservasi Wilayah Adat Raja Ampat

Tiga masyarakat adat di Raja Ampat menetapkan Kepulauan Fam sebagai wilayah konservasi adat. Penangkapan ikan hanya boleh dikelola secara tradisional di kepulauan yang menjadi rumah bagi 707 spesies ikan ini. Luar biasa kan...

Masyarakat adat Kepulauan Fam, Distrik Waigeo Barat Kepulauan Kabupaten Raja Ampat mendeklarasikan wilayahnya sebagai kawasan konservasi laut. Kawasan ini dilindungi dari berbagai tindakan dan penangkapan ikan secara liar/illegal. Area konservasi ini muncul berkat kesepakatan masyarakat adat Kampung Fam, Masyarakat Adat Kampung Saupapir dan Masyarakat Adat Kampung Saukabu-Distrik Waigeo Barat di Kepulauan Raja Ampat.

Masyarakat Adat ketiga kampung tersebut menyepakati kawasan tersebut sebagai Kawasan Konservasi yang akan dikelola masyarakat dengan dua zona. Yaitu zona pemanfaatan tanpa penangkapan ikan yaitu sekitar gugusan kepulauan Painemo dan Pulau Bambu. Dan zona  yang tetap dimanfaatkan sebagai wilayah penangkapan ikan tanpa menggunakan peralatan yang merusak dan dikelola secara tradisional.

Pulau Meoskor sendiri merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Fam sebagai Kawasan Konservasi Adat masyarakat yang membentang dari Pulau Painemu hingga ke Pulau Bambu dengan luas mencapai 36.000 Ha.


Habitat 707 Spesies Ikan
Salah satu keindahan kepulauan Fam, atau Pam menurut dialek lokal, adalah Pianemo atau Pyai Nemo menurut dialek lokal. Kawasan ini memiliki gugusan pulau-pulau karst yang indah yang sering disebut sebagai Wayag kecil, adalah bagian dari Kepulauan Fam.

Kepulauan ini terdapat tiga kampung yang berada di Distrik Waigeo Barat, Kampung Pam yang berada di Pulau Pam Kecil, dan Kampung Saukabu serta Saupapir berada di Pulau Pam Besar atau “Pam Bemuk” menurut bahasa setempat. Selain kedua Pulau tersebut, di Kepulauan Fam terdapat setidaknya delapan belas pulau lainnya yang tidak berpenghuni.

Kepulauan Fam berada di pesisir Raja Ampat, secara alamiah memiliki kemungkinan lebih besar untuk berinteraksi dengan pendatang, dan mendorong proses akulturasi, yang pada titik tertentu akan menghasilkan suatu ‘sintesa’ budaya yang unik.

Hampir seluruh masyarakat di Kepulauan Fam adalah pelaut-pelaut dari Biak-Serui, sebuah wilayah yang berada di bawah wilayah petuanan Seireri, yang telah mendiami gugusan kepulauan di sana selama ratusan tahun, dan haknya telah diakui secara terbatas oleh Suku Maya, yang pada tahun 2000 telah membentuk sebuah Dewan Adat, adalah suku asli pemilik hak ulayat seluruh wilayah Raja Ampat.

Setidaknya ada dua belas situs penyelaman di Kepulauan Fam, yang umum diketahui di kalangan penyelam. Salah satu keistimewaan situs penyelaman di Kepulauan Fam adalah seekor Pari Manta berenang dengan anggun di salah satu situs penyelaman ini.

Dalam hal keanekaragaman hayati, Kepulauan Fam memiliki nilai ekologis yang tinggi. Dari perspektif keterwakilan habitat, secara sederhana wilayah Kepulauan ‘mini’ ini dapat dikatakan sebagai representasi habitat dan ekosistem dari seluruh Raja Ampat, yang mencakup pulau karst, laguna, terumbu karang tepi, terumbu karang dalam, hutan bakau, hingga padang lamun. Melalui sudut pandang tersebut, Kepulauan Fam dapat dikatakan sebagai ‘Raja Ampat kecil.’

Pada tahun 2013 seorang peneliti mencatat sebanyak 707 spesies ikan di perairan Kepulauan Fam, yang semua  situs penyelaman ditemukan Hiu dan Ikan Napoleon dan spesies ikan tertinggi yang tercatat dalam satu sesi penyelaman sebanyak 357 spesies ikan.

Selain ikan karang, sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Benjamin Kahn pada tahun 2007 mengindikasikan, Kepulauan Fam merupakan wilayah ruaya bagi Lumba-lumba Indo-pacific Bottlenose, Kepulauan ini juga merupakan habitat penting bagi Kepiting Kenari yang dilindungi, dan juga Pari Manta.

Kelimpahan sumber daya kelautan di Kepulauan Fam juga menyiratkan potensi pariwisata bahari yang tidak kalah bernilainya. Oleh karena itu, guna menjaga kelestarian alam bawah laut dari berbagai aktivitas ilegal terutama penangkapan ikan dengan bahan peledak.

Walau begitu, ada kawasan di pulau itu yang tidak diperbolehkan menangkap ikan untuk kepentingan wisata. Masyarakat juga tidak menggunakan bahan kimia untuk menangkap ikan sehingga kelestarian laut tetap terjaga.