Kerbau, Mahluk Penting Bagi Suku-Suku Nusantara

Hewan keramat nan suci, simbol kekuatan dan pengantar jiwa-jiwa menuju alam baka. Kerbau merupakan mahluk penting bagi banyak suku di Indonesia, dari Jawa, Minangkabau, Batak, Bali hingga Sumba dan Toraja.

Siapa yang tak mengenal kerbau? Hewan ternak yang satu ini sering dimanfaatkan petani untuk membajak sawah, juga dimanfaatkan sebagai bahan makanan manusia. Namun, sejatinya bagi beberapa suku di Tanah Air, kerbau memegang peranan penting. Bahkan dianggap sebagai simbol kekuatan atau pengantar jiwa yang sudah mati menuju alam lain.

Masyarakat Indonesia sudah mengenal kerbau sejak zaman neolitikum. Setelah kebudayaan Hindu dan Buddha mulai masuk dan diterima di Indonesia, hewan ini kerap tertera dalam prasasti, kitab kesusastraan, relief-relief candi, juga arca-arca kuno.

Hal ini membuktikan adanya kepercayaan masyarakat yang menganggap kerbau sebagai hewan keramat nan suci yang layak dipuja-puji. Kepercayaan ini dianut oleh beberapa suku di penjuru Indonesia, seperti Jawa, Minangkabau, Batak, Bali, juga Toraja.


Suci dan Welas Asih
Bagi masyarakat Jawa, kerbau dianggap sebagai hewan yang mendatangkan banyak manfaat karena bisa memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia. Selain itu kerbau juga kerap dihubungkan dengan kesuburan tanah karena merupakan hewan yang paling cocok untuk membajak sawah.

Kerbau juga dianggap suci. Hal ini terlihat dalam penggambaran yang tertera pada relief Candi Borobudur. Kerbau dalam agama Buddha dianggap suci karena Buddha pernah dilahirkan sebagai seekor kerbau. Meski sering dianggap bodoh, lamban, dan kotor, namun kerbau memiliki kebajikan dan kesabaran, juga welas asih.

Di Jawa juga ada upacara adat yang menggunakan kepala kerbau untuk dikorbankan bersama beberapa sesaji lainnya. Setelah upacara selesai, sesajian dan kepala kerbau tersebut dihanyutkan ke laut dengan maksud sebagai penolak bala dan media permohonan doa kepada penguasa laut.

Sebagai masyarakat agraris, kerbau juga menempati peran penting dalam tradisi-tradisi yang menandai siklus pertanian. Seperti di Sumbawa, masyarakat menandai awal musim panen dengan balapan kerbau, Barapan Kebo. Tradisi ini sekarang menjadi event wisata yang mendunia, dikenal sebagai Saka Buffalo Race.

Sementara itu masyarakat Bali, tepatnya di daerah Tenganan, juga menganggap kerbau sebagai hewan yang suci dan tak boleh dipelihara atau dibunuh. Kerbau biasanya dibiarkan liar hingga mati dengan sendirinya. Kalau sudah begitu, kerbau pun harus dikuburkan dengan penuh penghormatan lewat rangkaian upacara adat.


Identitas Budaya
Berbeda lagi dengan masyarakat Sumatera Barat. Suku Minangkabau bahkan mengambil nama kerbau untuk dijadikan sebagai nama suku mereka. Ya, kata minang artinya kemenangan, sedang kata kabau berarti kerbau. Jika diartikan, maka Minangkabau mengandung arti sebagai kerbau yang menang.

Nama ini tak sembarangan dipilih. Menurut sejarah, Minangkabau terbentuk karena diawali kemenangan dalam pertandingan adu kerbau yang dilakukan untuk mengakhiri peperangan melawan kerajaan besar dari Pulau Jawa.

Kerbau juga dianggap sebagai identitas budaya Minang. Selain nama, bentuk atap rumah tradisional suku Minang yang disebut Rumah Gadang pun memiliki bentuk seperti tanduk kerbau. Pakaian wanita Minang yang disebut sebagai pakaian bundo kanduang juga memiliki penutup kepala serupa tanduk kerbau.

Hingga kini, kerbau kerap digunakan untuk kegiatan adu kerbau di Sumatera Barat sebagai salah satu cara melestarikan tradisi Minangkabau. Kerbau juga menjadi bagian penting dalam beberapa upacara adat suku Batak. Misalnya dalam upacara kematian saur matua dan mangokal holi dimana kerbau disembelih dan dibagikan pada kerabat yang mengikuti upacara tersebut.

Bagi masyarakat Batak, kerbau juga menduduki ‘posisi’ penting. Pada upacara perkawinan, upacara penghormatan, dan pendirian rumah adat hingga kematian yang dilakukan suku Batak, kerbau juga disembelih dan menjadi pelengkap adat yang penting.


Pengantar Arwah
Bagi masyarakat Toraja, kerbau menjadi media yang mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal dunia menuju alam baka. Di Tana Toraja, kerbau dianggap sebagai bagian penting dalam upacara kematian yang disebut Rambu Solok. Kerbau dianggap binatang suci yang mempunyai kekuatan magis, yakni dapat mengantarkan arwah menuju alam roh.

Selain itu, jumlah kerbau yang disembelih dalam upacara Rambu Solok juga menggambarkan kasta dan status sosial jenazah. Kerbau juga dianggap sebagai lambang prestise keluarga, lambang kesuburan, juga penolak bala. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya hiasan tanduk kerbau di rumah tongkonan yang dimiliki rakyat Toraja.

Ternyata kerbau bukan hewan ternak biasa. Selain bisa dimanfaatkan daging dan susunya, kerbau juga bisa membantu manusia dalam memanen padi. Bahkan, kerbau sang binatang suci ini punya berbagai kekuatan magis yang sangat dihormati bagi sebagian suku di nusantara.